Kemitraan Ternak Ayam Masih Menjanjikan di Masa Pandemi, Nih Buktinya

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Senin, 28 Jun 2021 16:17 WIB
Ilustrasi Peternakan Ayam
Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Beternak ayam ras pedaging (broiler) dengan cara bermitra ternyata tetap prospektif di masa pandemi ini. Bahkan dalam kondisi ekonomi yang serba tidak menentu yang diakibatkan pandemi, pola kemitraan tetap menjadi sandaran para peternak broiler untuk mendapatkan penghasilan yang layak.

Hal ini turut dirasakan oleh salah seorang Peternak asal Tangerang, Anita Novrida Pulungan. Ibu rumah tangga ini mengaku sudah mengikuti pola kemitraan usaha unggas sejak reformasi tahun 1998. Krisis moneter pada saat itu membuatnya banting setir dari perusahaan swasta.

"Tahun 1998 waktu itu sebelumnya saya bekerja di PT Bakrie & Brother, karena mulai krisis moneter, jadi saya ngobrol sama temen harus siap-siap punya usaha, karena sewaktu-waktu pasti di lay off oleh perusahaan," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Akhirnya berbekal gelar yang didapat saat kuliah di Fakultas Peternakan IPB, ia pun berhenti bekerja dan memulai bisnis unggas ini. Saat itu ia mengaku belum punya pengalaman dan jaringan, sehingga memilih pola kemitraan yang dinilainya prospektif di masa krisis.

"Jadi sistem kemitraan itu kita sudah punya harga kontrak, misalkan harga kita dipanen, dengan berat sekian sekian itu udah ada standarnya. Jadi kita sebagai peternak mitra hanya fokus di kualitas produksi, kita nggak usah memikirkan lagi siapa yang akan membeli," jelasnya.

Dia mengungkapkan skala prioritas bermitra waktu itu minimal 5.000 ekor ayam. Tercatat, hingga tahun 2021 di masa pandemi ini dirinya sudah punya puluhan ribu ekor ayam yang tersebar di dua daerah di Bogor.

"Modalnya (tahun 1998) minimal 5.000 ekor satu lokasi, kita bermitra bisa 2 sampai 3 lokasi. Sampai sekarang saya tuh punya kandang 2, satunya yang 7.000 ekor saya sewa di Ciawi, kandang saya sendiri itu sekitar 25.000 ada di Ciampea (Bogor)," ungkapnya.

Menurutnya, pola kemitraan ini terbukti memberikan prospek yang baik. Pasalnya, meski fluktuasi harga jagung sebagai bahan pakan ternak utama terus naik, sementara bila harga ayam hidup mengalami penurunan itu tidak berpengaruh pada peternakannya.

"Di masa pandemi kita nggak mengalami kerugian. Karena semua sudah urusan peternak inti kita atau perusahaan inti kita, dia yang akan panen, kemudian safronak juga kita tidak usah capek-capek harus beli, dia setor ke kandang kita, dia supply semuanya full, kita tidak pernah kesulitan mendapatkan day old chick (DOC)" tuturnya.

"Jadi istilahnya kalau di finance itu harga itu di-hanging, jadi harga tinggi, harga rendah kita tidak terpengaruh, jadi kita sudah punya harga pegangan, harga kontrak dari perusahaan inti kita," imbuhnya.

Terlebih, kata dia, jika harga panen di atas harga kontrak, akan ada bonus yang diterimanya. Sementara, jika harga panen jatuh di bawah harga kontrak, pihaknya tetap pakai harga kontrak yang sudah disepakati kedua pihak.

"Kita rata-rata bisa dapat Rp 2.500-Rp 3.000 per ekor, nanti kita dapat bonus kalau harga ayam hidup sedang tinggi, kita juga dapat bonus prestasi kalau kita menggunakan pakannya lebih efisien" bebernya.

Lebih lanjut, kata dia, saat ini umur panen ayam lebih pendek sehingga memberi keuntungan yang cepat. "Sekarang kan umur panen lebih pendek karena ayam cepat besar. Jadi dulu mula-mula saya beternak ayam, satu tahun itu 6 kali panen. Sekarang dengan perkembangan manajemen budidaya, pakan yang baik dan pencegahan penyakit, ayam bisa lebih cepat besar, bisa 7-8 kali panen dalam setahun," jelasnya.

Oleh karena itu, dia sangat menyarankan peternak pemula mengikuti pola kemitraan jika belum berani beternak secara mandiri. Pasalnya, selain banyak manfaat yang didapat, pola kemitraan juga bisa tahan banting di masa krisis ini.

"Modalnya sekarang untuk kemitraan di lapangan itu per ekor kira-kira Rp 2.000-Rp 2.250 per ekor. Nah itu mungkin di luar sewa kandang, tapi itu nggak mahal juga, jadi kalau mau untung harus di atas itu per ekor keuntungannya, misalkan Rp 3.000 per ekor aja udah ada keuntungan," jelasnya.

"Karena yang namanya bisnis makanan seperti ayam itu nggak ada masalah dengan pandemi. Karena pandemi, nggak pandemi orang tetap makan. Profitnya berkurang atau nggak berkurang itu tidak berdasarkan pandemi. Kalau saya peternak kemitraan ya, tentu berdasarkan kualitas produksi saya. Jadi itu yang terus kita jaga," jelas Anita.

Sebagai informasi, beberapa waktu lalu Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah memastikan pola kemitraan usaha ayam ras pedaging (broiler) tetap seimbang dan menguntungkan peternak.

Menurut Direktur Jenderal PKH Nasrullah, pola kemitraan telah diamanahkan dalam Permentan No. 13 Tahun 2017 tentang kemitraan usaha peternakan yaitu kerja sama antar usaha peternakan atas dasar prinsip saling memerlukan, memperkuat, menguntungkan, menghargai, bertanggung jawab dan ketergantungan.

"Dalam kemitraan usaha ayam broiler, peternak sebagai pihak plasma mendapatkan jaminan supply DOC, pakan ternak, obat vaksin disinfektan (OVD) dan jaminan pemasaran sesuai harga kontrak mengacu perjanjian tertulis dengan perusahaan sebagai pihak inti," ungkapnya dikutip dari rilis resmi Kementan.

Peternak plasma biasanya menyediakan kandang, sarana peralatan dan tenaga kerja untuk memelihara ayam broiler sejak DOC sampai panen. Kemudian perusahaan berkewajiban menyerap seluruh hasil panen peternak dalam bentuk livebird (LB) dengan harga kontrak.

"Faktanya peternak plasma mendapatkan jaminan pemasaran dan harga panen livebird berdasarkan perjanjian tertulis antara pihak perusahaan sebagai inti dan peternak sebagai plasma. Jadi seimbang," pungkas Nasrullah.

(akd/hns)