Stabilnya Harga Ayam Hidup, Tanda Industri Unggas Kembali Bergairah?

Inkana Putri - detikFinance
Jumat, 11 Jun 2021 13:23 WIB
peternak ayam
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Harga ayam hidup di tingkat peternak terus bergerak fluktuatif. Meskipun sempat anjlok di awal pandemi, harga ayam hidup kini sudah mulai stabil kembali. Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Achmad Dawami menyampaikan kondisi ini disebabkan adanya penurunan permintaan (demand) dari masyarakat sehingga berimbas pada suplai (supply) berlebih di pasar.

"Kalau dibicarakan soal demand ayam, terutama ayam broiler itu memang pada saat pandemi COVID-19 itu terjadi penurunan permintaan signifikan. Sehingga penurunan permintaan ini akan menyebabkan terkesan ada oversupply dari ayamnya sendiri, padahal yang minta turun," ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.

Lebih lanjut Achmad menjelaskan saat ini harga ayam hidup sudah mulai naik. Meskipun belum menyentuh angka normal, Achmad meyakini dalam waktu dekat permintaan masyarakat akan terus meningkat bahkan melebihi biasanya.

"Mungkin sekarang sekitar 6-8% sudah mulai kelihatan ada permintaan naik. Meskipun saat ini sudah ada kenaikan permintaannya dengan adanya vaksin masuk, kemudian restoran sudah mulai dibuka dan sebagainya, cuma belum kembali seperti sebelum pandemi. Tapi, mungkin dalam waktu dekat akan kembali normal dan bahkan lebih dari biasanya karena masyarakat Indonesia sudah mulai sadar bahwa gizi itu dapat meningkatkan imun," ungkapnya.

Di samping itu, Achmad menyebut kebijakan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) dinilai sangat berdampak terhadap stabilnya harga ayam hidup. Pada 2 September 2020, Kementan melalui Ditjen PKH mengeluarkan SE Nomor 095009/SE/PK.010/F/09/2020 tentang Pengurangan Day Old Chick (DOC) Final Stock (FS).

Dalam surat tersebut berisi aturan untuk melakukan langkah Cutting HE Umur 19 hari dan tunda setting guna mempercepat berkurangnya produksi DOC FS. Dengan demikian, peternak mandiri dapat menikmati Harga Pokok Penjualan (HPP) dan harga referensi dari Kementerian Perdagangan antara Rp 19.000 hingga Rp 21.000.

"Dampaknya ada, sejak akhir Oktober sampai sekarang itu gejolak naik turun harga ayam hidup tidak begitu tajam dan rata rata harga ayam hidup stabil baik. Namun, pemerintah harus bekerja sama dengan beberapa Kementerian terkait lainnya supaya bisa menjaga stabilitas jagung atau bahan baku dari makanan ternak supaya harganya tidak terlalu mahal, sehingga HPP ayam tidak terlalu tinggi," katanya.

Tak hanya itu, Achmad menyebut kebijakan ini juga berimbas terhadap nasib peternak. Adanya penyeimbangan supply dan demand dijelaskan Achmad turut membuat peternak sejak akhir tahun 2020 mulai mendapat keuntungan hingga sekarang.

"Dengan adanya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian mencoba menyeimbangkan antara supply dan demand dengan mengurangi produksi ayamnya, yang diperintahkan ke perusahaan pembibit maka terjadi keseimbangan yang sudah mulai terlihat. Sehingga peternak-peternak itu sudah mulai mengenyam profit meskipun mungkin masih belum normal," katanya.

Achmad juga menjelaskan mulai bergairahnya industri perunggasan terkait adanya peningkatan demand dan kesimbangan supply dan demand akan mendongkrak perekonomian di Indonesia. Mengingat perputaran uang di industri perunggasan mencapai triliunan rupiah per tahun.

"Pasti akan berpengaruh karena perputaran di bidang perunggasan di Indonesia ini sekitar Rp 500 triliun dalam satu tahun. Kalau naik 8% kan sudah bisa sampai Rp 40 triliunan. Ini pasti akan menggairahkan ekonomi Indonesia," tegasnya.

Achmad juga menyebut kondisi industri peternakan saat ini juga bukan disebabkan karena monopoli harga pakan ternak, DOC atau ayam hidup. Ia mengatakan hal tersebut hanyalah isu mengingat harga ayam hidup terus bergerak fluktuatif dipengaruhi supply dan demand. Bahkan, pada awal pandemi harga ayam hidup pernah menyentuh Rp 6.000 per kg dan DOC di angka 1.000 per kg

"Itu hanya isu saja kok. Harga ayam hidup itu jelas dipengaruhi dengan jumlah yang beredar dengan permintaan yang ada. Sekarang mulai minggu ini kelihatan sudah mulai naik, jadi kalau dibilang stabil itu tidak mungkin. Pasti ada kenaikan dan penurunan, namanya juga ayam hidup.
Kalau sekarang ini (harga ayam hidup) di kisaran nasional sekitar Rp 19.400 per kg," paparnya.

"Itu isi yang tidak berdasar, jadi monopoli tidak akan mungkin. Nggak ada monopoli untuk apa, kecuali kalau ayam itu bisa disimpan. Untuk DOC pernah paling anjlok pada bulan April 2020, itu sampai 1.000 - 1.500 per ekor. Kalau untuk livebird (ayam hidup) sendiri pada bulan itu juga kurang lebih sampai dengan Rp 6.000 per kg ada di Jawa Tengah," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Herry Dermawan mengatakan saat ini peternak ayam telah mulai mengalami keuntungan meskipun masih belum kembali normal. Dalam beberapa hari belakangan ini, Herry menyebut harga ayam hidup sudah mulai naik sehingga peternak dapat kecipratan untung sebesar 4%.

"Kalau kita modal Rp 20 ribu kita untung Rp 1.500- Rp 2.000. Jadi, kita itu kepingin untung 5% aja. Nah, kemarin 2 minggu ke belakang harga ayam turun, namun sudah 2 hari ini harga ayam naik. Tapi naiknya masih belum sesuai keinginan peternak dengan kata lain kalau di peternakan itu saya bisa tahu modal saya, tapi tidak bisa menentukan harga jual karena 100% ditentukan oleh pasar," katanya,

"Untuk ayam profitnya itu per kilo, moderatnya itu 5-7,5%. Sekarang baru dua hari ini menuju titik 4%," ungkapnya.

Herry menjelaskan keuntungan yang didapat ini tentunya juga tak jauh dari kebijakan pemerintah melalui Ditjen PKH. Terlebih saat ini, Ditjen PKH telah menerapkan kebijakan tersebut dengan tegas dan memberikan sanksi jika ada pelanggaran.

"Jadi kebijakan itu justru pemerintah mendengar suara rakyat, suara peternak dalam hal ini. Karena supply-nya kelebihan. Kalau bagi saya pemerintah sudah mendengar jeritan rakyat karena pemerintah nggak bisa menaikan harga atau menurunkan harga ayam tergantung situasi pasar, yang bisa dilakukan pemerintah adalah menyeimbangkan supply dan demand," imbuhnya.

Selain itu, Herry pun menilai langkah menyeimbangkan supply dan demand sudah tepat untuk menggeliatkan kembali industri perunggasan.

"Jadi menggeliat iya, tetapi dalam koridor pandemi COVID-19, di sini industri perunggasan berhasil menata diri untuk menyeimbangkan supply dan demand sehingga terjadi kesimbangan dan tidak rugi. Jadi sudah berhasil menyesuaikan (supply dan demand) karena turunnya (demand) gila-gilaan dari 80 juta per minggu hingga 50 juta per minggu, Itu kalau nggak diatur supplynya oleh pemerintah bisa rugi semua dan tutup, peternak apalagi," ungkapnya.

Soal adanya tuduhan monopoli harga pakan, DOC, dan ayam hidup, Herry pun membantah adanya isu tersebut. Mengingat isu ini sempat dilaporkan ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), namun tidak terbukti adanya monopoli.

"Masalah isu monopoli ini mungkin sudah ada sejak dulu, sudah pernah dilaporkan ke KPPU tapi ternyata tidak terbukti," katanya.

Terkait kondisi harga ayam hidup saat ini, pihaknya juga telah mengirim surat ke Kementerian Perdagangan untuk melakukan update terhadap Permendag Nomor 7 Tahun 2020. Hal ini mengingat harga pakan ayam yang naik 20% sehingga berimbas terhadap harga produksi ayam.

"Di Permendag No 7 Tahun 2020 sudah diatur harga jagung, bibit ayam dan ayam maksimal sekian, tapi itu dibuat kan tahun 2020. Sekarang sudah berubah, harga pakan naik 20%, harga DOC naik, artinya Permendag ini paling lama tiga bulan harus di-update karena yang kita kerjakan ini adalah barang agroindustri, yang punya sifat susah disimpan dan harga berfluktuasi. Kebetulan kita sudah mengirim surat ke Kemendag untuk meng-update peraturan itu," katanya.

Merespons hal ini, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag Oke Nurwan mengatakan pihaknya sedang mempertimbangkan untuk memperbaharui harga acuan. Meskipun demikian, pihaknya juga menyarankan agar pola peternakan juga diubah sehingga dapat sejalan.

"Akan kita, sedang, karena kita harus melihat situasi dulu, tapi jangan sampai Permendag ini menekan peternak, sementara harga di konsumen, tetap rendah di bawah harga acuan, karena tadi over supply itu, jadi tidak hanya permendag harga acuannya yang harus diubah tapi pola peternakannya juga," ungkapnya beberapa waktu lalu.



Simak Video "Wacana Kemendag Bangun Pasar Aset Kripto Bikin Bingung"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/hns)