Alasan Jokowi Masih Kekeh Target Ekonomi 7% Meski Corona Menggila

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 05 Jul 2021 18:30 WIB
Jakarta -

Meski banyak pihak yang meragukan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sepertinya masih meyakini ekonomi di kuartal II-2021 bakal tumbuh 7%. Meskipun diakui PPKM Darurat bakal memberikan pengaruh kepada ekonomi di semester II-2021.

Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna dengan topik: Realisasi Semester I dan Prognosis Semester II Pelaksanaan APBN 2021.

"Untuk semester yang pertama kita sudah melihat perekonomian menunjukkan pemulihan yang cukup baik. Namun kuartal I yang masih pertumbuhan waktu itu sempat -0,7% diperkirakan akan terakselerasi di kuartal kedua," tuturnya dilansir dari akun Youtube Sekretariat Presiden, Senin (5/7/2021).

Sri Mulyani mengatakan, secara 6 bulanan, pada semester I-2021 pemerintah masih yakin ekonomi tumbuh 3,1-3,3%. Itu artinya jika kuartal I-2021 pertumbuhan ekonomi -0,7%, maka pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2021 bisa tumbuh 7%.

"Kuartal kedua kita masih memperkirakan atau memproyeksikan pertumbuhan ekonomi ada di sekitar 7%. Sehingga realisasi semester 1 adalah di 3,1% hingga 3,3%," terangnya.

Sementara untuk terkait kebijakan pengetatan yang dilakukan pemerintah melalui PPKM Darurat menurutnya akan berdampak pada perekonomian di semester II-2021.

"Langkah-langkah pengetatan ini tentu nanti akan memberikan dampak pada outlook perekonomian kita, terutama di kuartal ketiga dan kuartal keempat tahun ini, yaitu semester II," ucapnya.

Pemerintah sendiri sudah menyiapkan proyeksi terbaik dan terburuk imbas dari PPKM Darurat. Proyeksi itu tentunya tergantung dari keberhasilan menekan jumlah penyebaran COVID-19.

"Untuk semester II akan sangat tergantung kepada kondisi COVID-19 yang sekarang ini kita hadapi. Terutama berapa lama kenaikan COVId-19 dan pengetatan harus dilakukan," tambahnya.

Dalam skenario moderatnya, dengan asumsi pada Juli ini peningkatan kasus COVID-19 bisa dikendalikan. Lalu aktivitas masyarakat bisa kembali normal, atau setidaknya pengetatan berkurang, maka menurutnya ekonomi masih bisa tumbuh hingga 5%.

"Jika Juli sudah bisa dikendalikan dan pada Agustus sudah mulai ada aktivitas yang normal, atau terjadi kemudian restriksinya dikurangi, maka ekonomi masih akan bisa tumbuh pada kondisi pertumbuhan yang di atas 4% atau bahkan mendekati 5%," ucapnya.

Namun jika ternyata kasus COVID-19 juga masih tinggi, kemudian pengetatan aktivitas masih diperpanjang, maka pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2021 hanya akan 4%. "Ini yang harus kita waspadai," tegasnya.

"Nah untuk itu kecepatan imunitas yang bisa dimunculkan di masyarakat melalui vaksinasi menjadi syarat yang penting, dan juga pelaksanaan protokol kesehatan. Sehingga kondisi dari covid tetap bisa dikendalikan, namun pemulihan ekonomi juga tetap bisa dipertahankan," tambahnya.

(das/dna)