Waspada Pencurian Data-Uang di Handphone, Ini Tips Menghindarinya

Siti Fatimah - detikFinance
Selasa, 06 Jul 2021 13:38 WIB
Hacker di Indonesia bobol puluhan ribu data pemohon bansos AS, raup hampir setengah miliar rupiah
Ilustrasi/Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Isu pencurian data pribadi kini kerap terjadi. Salah satu penyebabnya bisa dari jenis aplikasi yang digunakan di handphone atau smartphone.

Dampak panjang dari pencurian data pribadi bisa merambat ke pencurian uang digital yang ada di smartphone misalnya seperti uang dalam e-commerce atau m-banking. Pengamat IT sekaligus Chief Digital Forensic Indonesia, Ruby Alamsyah mengatakan, besar bahaya kebocoran data tergantung dari data yang diambil.

Agar terhindar dari pencurian data lewat aplikasi, Ruby memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan oleh masyarakat pengguna Android dan IOS.

"Jadi yang pertama selalu mengaktifkan automatic update operator sistemnya. Kedua hanya menginstal aplikasi dari store resmi, apple store atau google playstore," kata Ruby saat dihubungi detikcom, Selasa (6/7/2021).

Selain mengunduh aplikasi lewat official store, Ruby pun menyarankan pengguna untuk mulai terbiasa membaca review pengguna lain dan melihat siapa pengembang aplikasi.

"Agar apa? Agar dapat mengetahui informasi aplikasi tambahan bahwa aplikasi itu tidak ada hal-hal yang akan merugikan ke depannya," ujarnya.

Kemudian cara lain yang dapat menyelamatkan diri dari pencurian data pribadi yaitu dengan membekali handphone dengan software anti malware. Dia mengatakan, saat pertama kali mengunduh aplikasi pun harus memperhatikan permintaan akses yang diminta aplikasi.

Senada dengan itu, Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho mengatakan hal serupa. Menurutnya, di sisi lain masyarakat dimudahkan dengan adanya Fintech tapi masyarakat juga tak boleh abai mengenai perlindungan data pribadi.

"Kita harus melengkapi gadget kita dengan proteksi yang ada. Kalau sekarang saya perhatikan di m-banking atau di toko-toko e-commerce itu mereka sudah berlapis proteksi pelanggannya, habis kita selesai pakai kartu kredit, ditanya OTP nya," kata Andy.

Jika saat menggunakan aplikasi dan merasa ada kejanggalan, Andy berpendapat, lebih baik mengurungkan niat untuk menggunakan aplikasi tersebut. "Kita rasa ini tidak ada security-nya di e-commerce tertentu mending kita jangan belanja di situ atau misalnya jangan sembarangan data kita ke pihak ke tiga," tuturnya.

"Karena kita sebagai pengguna sekaligus sebagai gerbang untuk menjaganya. Mau kita pakai tools apapun tetap waspada dengan tidak menyebarkan informasi mulai dari pin, OTP, password dan tidak sembarang menginstall aplikasi," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Quick Heal Security mengungkapkan ada delapan aplikasi yang membawa malware Joker. Malware tersebut akan meminta seluruh akses dan mencuri informasi pribadi dari SMS, daftar kontak dan informasi perangkat. Selain itu juga dapat berinteraksi dengan situs iklan diam-diam hingga melakukan pencurian uang.

Kedelapan aplikasi tersebut yaitu Auxiliary Message, Fast Magic SMS, Free CamScanner, Super Message, Element Scanner, Go Messages, Travel Wallpapers, dan Super SMS.

(eds/eds)