Bikin Situasi Bak 'Neraka', Ekonomi Lebanon 2020 Minus 20,3%

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 11 Jul 2021 18:01 WIB
Tak Bisa Tarik Tunai dari Bank, Warga Lebanon Demo Besar-besaran
Foto: associated press
Jakarta -

Bank Dunia menyatakan krisis ekonomi yang melanda Lebanon adalah depresi terburuk dalam sejarah modern. Tantangan berat itu sudah dirasakan sejak akhir 2019.

Dikutip dari website resmi Bank Dunia, Minggu (11/7/2021), pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil Lebanon kontraksi sebesar 20,3% pada 2020. Setelah menyusut 6,7% pada 2019.

PDB Lebanon anjlok dari hampir US$ 55 miliar pada 2018 menjadi sekitar US$ 33 miliar pada 2020, sementara GDP per kapita anjlok sekitar 40% dalam dolar.

"Kontraksi brutal seperti ini biasanya terjadi dalam konflik atau perang," kata Bank Dunia dalam laporan itu.

Inflasi mencapai tiga digit, mata uang kehilangan 90% dari nilainya, hingga kemiskinan meningkat tajam di Lebanon sampai 77% rumah tangga tanpa cukup makanan.

Sektor perbankan, yang secara informal menerapkan kontrol modal yang ketat telah menghentikan pinjaman dan tidak menarik simpanan. Beban penyesuaian/deleveraging yang sedang berlangsung sangat regresif terkonsentrasi pada deposan kecil dan UKM.

Pada 2021 ini, Lebanon diproyeksikan masih mengalami kontraksi 9,5%. Dampak pandemi COVID-19 suka tidak suka membuat krisis ekonomi Lebanon berlanjut.

Resesi Lebanon kemungkinan akan sulit dan berkepanjangan mengingat tidak adanya pemerintah yang berfungsi penuh dalam menghadapi tantangan besar ini. Seperti diketahui, Kabinet Perdana Menteri Hassan Diab mengundurkan diri beberapa hari setelah ledakan di Pelabuhan Beirut pada 4 Agustus 2020.

Sejak saat itu, para politikus sektarian yang terpecah-pecah tidak mampu mencapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan baru. Hal itu membuat Lebanon kini tidak memiliki pemerintah yang berfungsi penuh dalam membuat reformasi kebijakan.

(aid/dna)