Nasib Driver Ojol Kala PPKM Darurat: Orderan Seret-Cicilan Macet

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 12 Jul 2021 19:30 WIB
Massa driver ojek online (ojol) masih berdemonstrasi di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (27/3/2018). Mereka menyuarakan tuntutan soal rasionalisasi tarif ojol. Massa juga menuntut legalitas angkutan online kendaraan roda dua.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Sopir atau driver ojek online (ojol) bisa dibilang sebagai profesi yang langsung terdampak kebijakan pemerintah PPKM darurat. Apalagi, pergerakan masyarakat semakin diperketat dengan diterapkannya surat tanda registrasi pekerja (STRP) sebagai syarat perjalanan.

Imbas dari kebijakan PPKM darurat ini, order driver langsung anjlok. Mereka pun putar otak agar dapur terus ngebul dan cicilan kendaraan lancar terus.

Salah seorang driver, Angga bercerita, sebelum PPKM darurat ia bisa mendapat 10 hingga 18 order seharian penuh. Namun, sekarang turun drastis di bawah 7 order per harinya.

"Selama PPKM darurat, banyak orang kerja WFH jadi untuk ride agak berkurang, yang biasanya sehari bisa 10-18 orderan, selama PPKM sehari di bawah 7 orderan dari pagi sampai sore," katanya kepada detikcom, Senin (12/7/2021).

Memang, banyak sedikitnya order yang masuk tergantung dari aplikasi. Ada yang tiap harinya bisa dapat order banyak, ada yang sedikit.

Ia pun putar otak untuk mengakali agar pendapatannya tak turun tajam. Salah satunya ialah memanfaatkan layanan antar makanan. Meski, hal itu juga tanpa soal. Sebab, jam operasional restoran juga dibatasi saat PPKM darurat.

"Nah ngakalinnya main beberapa aplikasi lain contohnya yang gua (saya) lakuin main Shopeefood yang khusus food aja itu ngebantu banget meskipun jam operasional resto sama mall terbatas sehari masih bisa dapat 10 orderan," terangnya.

Strategi memanfaatkan layanan antar makanan tak lantas membuat pendapatannya pulih seperti biasa. Dia bilang, rata-rata driver mematok pendapatan Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per hari. Meski sudah memanfaatkan layanan antar makanan, pendapatannya tetap turun sekitar 30% atau rata-rata menerima sekitar Rp 70 ribu.

Turunnya penghasilan tentu berdampak pada pemenuhan hidup sehari-hari. Dengan kondisi tersebut, ia harus pintar-pintar mengatur uang untuk makan, cicil motor hingga bayar kontrakan.

"Ya ngepas buat makan, cicilan motor sama bayar kontrakan aja sih," tambahnya.

Hal senada diungkap Ketua Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Indonesia Igun Wicaksono. Ia mengatakan, pendapatan driver rata-rata turun 30%. Hal itu pun berdampak upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"PPKM darurat ini memang menurunkan pendapatan ojek online sekitar 30%. Dan ini pasti berdampak kehidupan sosialnya. Jadi memang akibat dengan menurunnya pendapatan, kebutuhan-kebutuhan mereka banyak yang tidak terpenuhi seperti kebutuhan dapurnya, pembayaran-pembayaran kredit sepeda motornya," ungkapnya.

Igun bilang, banyak driver akhirnya telat bayar cicilan. Hal itu sebagaimana heboh bentrokan driver dengan debt collector beberapa waktu lalu.

"Banyak (telat), sampai terakhir kemarin itu sempat ada bentrokan pihak debt collector yang mengaku perusahaan pembiayaan dengan teman-teman ojek online, pada saat itu akibat ada oknum debt collector yang mencoba melakukan penagihan secara paksa temen ojek online yang terlambat membayar angsuran kredit kendarannya," ujarnya.

"Salah satu dampak yang timbul berkurangnya pendapatan dari temen-temen ojek online menyulitkan mereka membayar angsuran, maupun memenuhi kebutuhan hidupnya," terangnya.

(acd/eds)