Orang Kaya RI Makin Banyak Selama Pandemi, Gimana Dengan yang Miskin?

Siti Fatimah - detikFinance
Selasa, 13 Jul 2021 19:20 WIB
Pandemi COVID-19 berdampak luas ke berbagai sektor kehidupan serta lapisan masyarakat. Anak-anak pun turut merasakan dampak dari pandemi ini.
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Sebuah fakta terungkap bahwa orang kaya di Indonesia mengalami peningkatan selama pandemi COVID-19. Berdasarkan laporan Credit Suisse, jumlah orang dengan kekayaan di atas US$ 1 juta atau setara dengan Rp 14,49 miliar (kurs dollar Rp 14.486) di Indonesia ada sebanyak 172.000 orang, alias bertambah 62,3% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Laporan Credit Suisse nampaknya memberikan bukti bahwa kesenjangan antara rakyat Indonesia agak melebar. Terlihat dari data indeks gini yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Indeks gini adalah indikator yang mengukur tingkat pengeluaran penduduk yang dicerminkan dengan angka 0-1. Semakin rendah angkanya, maka pengeluaran semakin merata.

Per September 2020, indeks gini Indonesia ada di 0,385, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni 0,38. Artinya, pengeluaran semakin tidak merata karena angka indeks gini mengalami peningkatan.

Awal tahun 2021, sebuah organisasi nirlaba Oxfam juga telah memperingatkan adanya potensi peningkatan ketimpangan karena pandemi. Oxfam menyebutkan, bagi orang-orang miskin, angka kemiskinan naik ke level di mana kemajuan selama 10 tahun terakhir seakan tidak ada artinya.

"Bagi orang-orang kaya, resesi sudah selesai. Gabungan kekayaan 10 orang terkaya di dunia naik US$ 500 miliar sejak pandemi dimulai. Uang sebanyak ini cukup untuk membayar vaksin bagi seluruh umat manusia di bumi," sebut laporan berjudul The Inequality Virus tersebut.

Gabrielle Bucher selaku Direktur Eksekutif Oxfam International mengatakan, upaya melawan ketimpangan harus tercermin dalam belanja pemulihan ekonomi. Menurutnya, pemerintah harus memastikan semua orang bisa mendapatkan vaksin.

"Pemerintah juga wajib memberikan bantuan kepada mereka yang kehilangan pekerjaan karena pandemi. Ini bukan hanya kebijakan sesaat, tetapi harus menjadi sebuah new normal agar pemulihan ekonom bisa dinikmati semua orang, bukan hanya mereka yang punya previlese," jelasnya.

Sementara itu, Mira Midadan sebagai Peneliti Center of Food, Energy, and Sustanable Development Indef mengatakan, dalam setahun ini tingkat kemiskinan masyarakat secara nasional mengalami peningkatan.

Dia menyebut, angka kemiskinan bertambah didominasi oleh masyarakat miskin di perkotaan. "Penduduk miskin di pedesaan di tahun 2020 stabil, agak turun sedikit kurang lebih 12%, di perkotaan cenderung meningkat akhirnya berimplikasi pada penduduk miskin secara nasional. Kalau pertumbuhan penduduk miskin di perkotaan di atas 10% tahun 2020 , sedangkan di pedesaan agak mendatar 0,31%," kata Mira dalam sebuah webinar.

Lebih lanjut, kemiskinan mendapatkan kontribusi terbanyak dari tingkat pengangguran sebagai imbas pegawai di PHK selama pandemi. Tiga daerah tertinggi di tanah air menjadi penyumbang pengangguran terdidik terbesar dan terbanyak yaitu Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Ketiga negara tersebut secara bersamaan memiliki peran sebagai penopang ekonomi secara nasional.

"Peningkatan penduduk miskin sebenarnya perlu diikuti dengan kebijakan yang bisa membantu menghidupkan perekonomian masyarakat miskin ini, karena masih pandemi perlindungan sosial salah satu cara yang bisa dilakukan pemerintah. Pemerintah bisa memberikan pelatihan yang basic nya meningkatkan skill, khususnya diberikan pada korban-korban PHK," pungkasnya.

(eds/eds)