Jangan Takut Mulai Bisnis di 2021, Ini 5 Tips dari CEO Hijup.com

Erika Dyah - detikFinance
Selasa, 13 Jul 2021 20:11 WIB
Mandiri Virtual Talk
Foto: Erika Dyah
Jakarta -

Kondisi pandemi menjadi masa sulit bagi semua orang, tak terkecuali bagi para pelaku bisnis. Meski demikian, pandemi tak seharusnya jadi penghalang untuk kamu yang ingin memulai bisnis di 2021.

CEO sekaligus Founder dari Hijup.com, Diajeng Lestari berbagi kisahnya mengenai bisnisnya di bidang e-commerce yang telah dimulai sejak 10 tahun lalu sekaligus berbagi tips untuk memulai bisnis di tahun 2021. Perempuan yang akrab disapa Ajeng ini mengatakan meski pandemi mengharuskan orang untuk jaga jarak dan di rumah saja, bisnisnya bisa tetap bertahan karena telah mengandalkan teknologi digital dan platform online sejak 2011 silam.

Di tengah pandemi, ia melihat semakin banyak bisnis yang mulai merambah penjualan online. Ia mengatakan meski di tengah kesulitan, ada juga kemudahan yang bisa dimanfaatkan salah satunya lewat penjualan online. Ajeng pun berbagai kisah dan 5 tips lainnya dalam Mandiri Virtual Talk Ep.7 bertajuk 'Atur Keuangan Pebisnis Pemula' yang bisa disimak untuk kamu yang ingin mulai bisnis di 2021.

Perbanyak Riset

Ajeng mengisahkan ia memulai bisnis e-commerce Hijup.com 10 tahun lalu saat penggunaan internet bahkan belum masif seperti sekarang. Bukan tanpa alasan, Ajeng yang dulu sempat bekerja di perusahaan market research melihat data tentang banyaknya penduduk muslim di Indonesia bisa menjadi peluang untuk sebuah bisnis.

Ia pun melihat 10 tahun lalu ada kecenderungan masyarakat mulai mencari rekomendasi produk dari internet, ditambah lagi orang-orang mulai tidak percaya dengan pemasaran berbentuk iklan karena lebih percaya pemasaran word-of-mouth. Hasilnya, bisa dilihat kini tren influencer di sosial media sangatlah menjamur.

"10 tahun lalu riset ini sudah ada kalau market itu bakal berubah. Sebagai pengusaha kita harus lihat dulu ke depannya akan seperti apa kondisinya, prediksinya, berdasarkan data-data yang sudah dikumpulkan. Research itu sekarang luar biasa ada di mana-mana, bisa baca dan download dari internet," kata Ajeng dalam Mandiri Virtual Talk Ep.8 dikutip Selasa (13/7/2021).

Efisiensi

Ia mengatakan efisiensi menjadi kunci dalam menghadapi kondisi pandemi saat ini. Ajeng menjelaskan Hijup.com bukan lah open marketplace karena perlu melalui proses kurasi sehingga semua kontrol mulai dari pemilihan tenant, foto produk, hingga penjualan dikelola oleh timnya. Akan tetapi, kondisi pandemi membuat Ajeng mengubah model bisnis menjadi B2C dengan memberi otoritas lebih bagi para tenant di Hijup.com.

Hal ini ia rasa lebih efektif, bahkan ia me-reduce banyak sekali pengeluaran perusahaan di tengah kondisi sulit saat ini. Ia pun berkisah, di awal memulai bisnis, ia mengerjakan setiap pekerjaan yang bisa dilakukan mulai dari urusan CEO hingga perkara bersih-bersih. Menurutnya, berbagai upaya efisiensi bisa dilakukan saat memulai bisnis juga saat menghadapi kondisi sulit seperti pandemi.

Test The Market

Ajeng mengingatkan pentingnya mengenali target pasar saat memulai bisnis. Menurutnya, seorang pengusaha harus paham betul bisnis apa yang akan dimulainya. Serta memahami market mana yang ingin dituju. Agar tidak membuat banyak modal saat memulai bisnis, Ajeng memberi tips untuk mengetes market dengan mencari tahu apa yang disukai pasar serta menguji coba produk pada lingkungan terdekat.

"Kita harus mencari tahu market-nya suka atau nggak. Contoh, kalau di fashion mulai dari produknya, bahannya, pattern-nya, kemasan, juga bahan. Jadi kita bisa koreksi dari awal. Kita bisa tes dulu ke teman-teman sekitar, mulai dari kecil-kecil. Lalu, kita bisa kasih ke influencer ketika respons-nya bagus kita bisa mulai ke (tujuan) yang lebih besar," jelasnya.

Manfaatkan Momentum

Bisnis Hijup.com dimulai dengan modal di bawah Rp 20 juta dengan tim 3 yang terdiri dari orang saja. Meski demikian, Ajeng mengungkap bisnisnya bisa bertahan hingga kini salah satunya karena bisa memanfaatkan momen sejak awal kemunculannya.

"Kita launching di bulan Ramadhan, jadi sebelum Ramadhan kita udah bikin sosial media, kita bikin press conference sehingga berita kemunculan Hijup.com udah banyak di mana-mana. Sehingga, di bulan pertama kita launching itu langsung BEP (break event point)," ungkapnya.

Lihat Peluang

Ajeng melihat banyak bisnis yang justru bertumbuh di tengah pandemi akibat adanya perubahan perilaku masyarakat. Perubahan inilah yang menurutnya bisa dimanfaatkan untuk memulai bisnis.

"Misal, orang-orang walaupun di rumah ya tetap makan, ibu-ibu juga malah makin senang dengan perawatan tubuh. Ada lho peluang-peluang itu, mungkin ketika mau mulai bisnis di 2021 coba lihat apa yang dibutuhin sama masyarakat saat ini. Itu jadi peluang di tahun 2021," katanya.

Ajeng menyampaikan bahwa bisnis sendiri bisa dikatakan sebagai salah satu investasi. Sehingga, menurutnya kita harus bisa me-manage ketakutan untuk memulai bisnis dan berinvestasi di tengah pandemi ini. Ia mengatakan jika kita menunda waktu untuk mulai berinvestasi yang ada malah kita kehilangan kesempatan.

"Kalau kita terlalu takut dan nggak berani buat invest itu justru malah menghalangi kesuksesan di masa depan," tutur Ajeng.

Senada dengan Ajeng, Investment Specialist dari Asset Allocation & Research Mandiri, Diaz Adritya Putra keberanian jadi salah satu faktor utama untuk memulai bisnis di tengah pandemi.

"Mental itu penting banget, karena kita nggak tahu nih behaviour-nya consumer itu semenjak COVID-19 ini. Itu sesuatu yang bisa dieksplor juga sih," kata Diaz.

Sama seperti bisnis, Diaz pun mengingatkan agar masyarakat tak takut untuk mulai mencoba berinvestasi. Akan tetapi, model investasi juga harus disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan dari masing-masing orang, terutama untuk para pengusaha.

Dalam Mandiri Virtual Talk Ep.8, Diaz mengatakan penting sekali bagi para pengusaha untuk memahami profil risiko dari berbagai jenis investasi yang ada.

"Setelah memahami high risk high gain ya sudah coba aja dulu, itu pelajaran paling berharga," ujarnya.

Sebelum memulai investasi, Diaz juga mengimbau agar masyarakat dapat terlebih dahulu memenuhi kebutuhan keuangan pribadi yang lebih vital.

"Seperti dana darurat, itu harus dikumpulin dulu. Asuransi juga kalau belum punya harus dipenuhi dulu. Juga kebutuhan sehari-hari seperti apa. Kalau dari sisi kebutuhan keuangan sudah cukup dan masih ada uang yang bisa disisihkan bisa dipertimbangkan untuk mulai berinvestasi," pungkasnya.

(mul/dna)