Anggota DPD Dukung Kementan Kembangkan Pangan dari Singkong

Khoirul Anam - detikFinance
Rabu, 14 Jul 2021 11:16 WIB
Warga Polewali Gelar Makan Bersama Ubi Kayu
Foto: Abdy Febriady/detikcom
Jakarta -

Anggota Komite II DPD RI utusan Sumatera Barat Emma Yohanna mendukung Kementerian Pertanian (Kementan) mengembangkan makanan lokal, terutama produk olahan berbahan dasar ubi kayu atau singkong. Menurut Emma, sejauh ini singkong memiliki potensi besar dalam industri produk makanan nasional.

"Sekarang konsorsium bisnis di Minangkabau (Sumatera Barat) memulai membuat mi Minangkabau yang semua bahan bakunya terdiri dari mocaf (tepung singkong)," ujar Emma dalam keterangan tertulis (14/7/2021).

Meski demikian, kata Emma, produsen makanan olahan lokal di Sumbar masih bekerja sama dengan perusahaan di Jawa Tengah. Namun ke depan, bukan tidak mungkin akan ada unit-unit usaha dari pelosok desa.

"Industri atau pabrik mocaf itu belum ada di Sumbar, baru akan ada tahun depan direncanakan keperluan awal itu 500 hektare. Kalau saat ini masih kerja sama dengan Jawa Tengah," katanya.

Untuk diketahui, produk olahan makanan Minangkabau saat ini berupa mi instan yang memiliki varian rasa gulai tunjang dan gulai cincang. Selain itu, ada varian rasa rendang.

Sebelumnya, Anggota Komite II DPD RI Stefanus Liow juga mengapresiasi upaya Kementan terhadap peningkatan produksi pangan, baik lokal maupun nasional. Menurut Stefanus, kinerja tersebut memiliki kontribusi besar terhadap perbaikan ekonomi nasional.

"Selain makanan lokal, yang juga menjadi perhatian saya saat ini adalah banyaknya usulan dari rakyat untuk mengembangkan bunga krisan sebagai bunga yang berpotensi ekspor, terutama ke Jepang," jelasnya.

Adapun dukungan juga datang dari Guru Besar Universitas Jember Prof. Achmad Subagio. Ia mendukung gerakan diversifikasi pangan lokal sebagai kekuatan dalam membangun sektor pertanian masa depan dengan melalui olahan ubi kayu karbohidrat seperti singkong.

"Kita tahu ada mocaf dari bahan dasar singkong. Kemudian ada gaplek dan tapioka yang juga sama-sama dari singkong. Belum lagi akar dan daun yang bisa digunakan untuk olahan kimia dan makanan lainya," katanya.

Subagio menilai komoditas singkong memiliki potensi bisnis yang sangat luar biasa, terutama dalam memenuhi kebutuhan pasar ekspor untuk produk olahan mocaf. Bahkan, singkong adalah kekuatan sekaligus karakter produk makanan bangsa Indonesia.

"Singkong itu sangat luar biasa sekali. Karena dari singkong, kita bisa memiliki kekuatan sebagai sebuah bangsa. Bahkan produk kimia saja bahan bakunya dari akar singkong," katanya.

Di sisi lain, lanjut Subagio, singkong merupakan komoditas yang paling kuat terjangkit hama sehingga kandungan nutrisinya tetap terjaga dengan baik. Apalagi jika diperkuat dengan pupuk sebagai penyubur tanah.

"Sebenarnya kalau kita lihat risiko kehilangan nutrisi singkong itu paling rendah jika dibandingkan dengan tanaman lain," ungkapnya.

Ketua Masyarakat Singkong Indonesia Arif Lambaga juga menuturkan bahwa produk olahan singkong adalah jati diri bangsa yang memiliki potensi ekonomi cukup besar. Terutama dalam menghidupkan ekonomi keluarga.

"Sebab singkong bisa ditanam di lahan-lahan sempit seperti pekarangan rumah. Saya kira ini sudah seusai dengan program pemerintah yang telah mensinergikannya melalui gerakan diversifikasi pangan lokal," tutupnya.

(akd/ara)