Pedagang PGC Turun ke Jalan, Pengelola: Kami Tak Bisa Halau Mereka

Siti Fatimah - detikFinance
Rabu, 14 Jul 2021 15:14 WIB
Jakarta -

Pengelola Mal Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur buka suara terkait kondisi di depan mal yang diisi oleh tukang service handphone. Para teknisi tersebut sebelumnya membuka kios di PGC, namun saat ini tutup sementara selama PPKM Darurat.

General Manager PGC Akub Sudarsa mengatakan, mengenai perizinan para teknisi yang membuka lapak di trotoar, pihaknya tak memiliki kewenangan untuk memberikan izin. Dia mengatakan, kegiatan mereka tanpa seizin pihak pengelola mal alias hasil inisiatif para teknisi perbaikan handphone.

"Kalau izin ke saya tentunya bukan kapasitas kami buat izinin ya, karena itu kan wilayahnya di luar PGC di pinggir jalan. Sama sekali tanpa izin ke kami," kata Akub saat dihubungi wartawan, Rabu (14/7/2021).

Lebih lanjut, pihaknya pun tak dapat melakukan pelarangan kepada para teknisi perbaikan handphone. Dia sepakat, bahwa aksi yang dilakukan itu karena termasuk tuntutan kebutuhan.

"Kami juga tidak bisa menghalau mereka karena bukan tupoksi kami. Intinya mungkin karena tuntutan kebutuhan mereka mungkin dengan sangat terpaksa mereka harus lakukan itu," ujarnya.

Dia menerangkan setidaknya jumlah kios yang berada di dalam PGC di kondisi normal berjumlah 3500. Sedangkan khusus untuk konter handphone dan jasa perbaikan kurang lebih berjumlah 150.

Sebelumnya diberitakan, para teknisi handphone turun ke jalan setelah Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur ditutup sementara selama pelaksanaan PPKM Darurat. Mereka mulai membuka lapak dari pukul 09.00 WIB sampai 18.00 WIB, bahkan beberapa diantaranya sampai pukul 20.00 WIB.

Salah satu teknisi perbaikan handphone yang tak ingin disebutkan identitasnya mengatakan, kondisi sulit tersebut merupakan yang tersulit selama karirnya dalam 21 tahun terakhir. "Saya service handphone udah 21 tahun dan ini kondisi terberat," ujarnya kepada detikcom.

Tak hanya itu, beban kebutuhan hidup, biaya sewa kios dan listrik menambah alasannya harus berusaha mempertahankan mata pencahariannya itu. "Berat, kalau saya bawa badan sendiri enak, ini kan ada anak istri nunggu di rumah. Rasanya gimana, anak nangis belum makan apa-apa. Kita begini juga karena ada tanggung jawab," imbuhnya.

(eds/eds)