Jurang Pemisah Si Kaya dan Si Miskin Makin Lebar Selama Pandemi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 16 Jul 2021 11:54 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan dan ketimpangan teranyar. Angka kemiskinan bertambah, dan tingkat ketimpangan (gini ratio) bergerak stagnan.
Jurang Pemisah Si Kaya dan Si Miskin Makin Lebar Selama Pandemi
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Gini Ratio atau ketimpangan Indonesia pada Maret 0,384 atau naik dibandingkan periode Maret 2020 yang 0,381. Ini artinya jurang pemisah si kaya dan si miskin di Indonesia, semakin lebar karena pandemi COVID-19.

Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan penyebabnya adalah pandemi COVID-19. Walaupun secara nasional, sejak Maret 2015 angka Gini Ratio mengalami penurunan sampai September 2019. Kondisi ini menunjukkan bahwa selama periode tersebut terjadi perbaikan pemerataan pengeluaran di Indonesia.

"Namun demikian, akibat adanya pandemi COVID-19, nilai Gini Ratio kembali mengalami kenaikan," kata dia dalam konferensi pers, dikutip Jumat (16/7/2021).

Margo mengatakan angka ini menurun 0,001 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio pada September 2020 yang tercatat sebesar 0,385. Namun meningkat 0,003 poin apabila dibandingkan dengan Gini Ratio pada Maret 2020 yang tercatat sebesar 0,381.

Adapun tingkat ketimpangan di perkotaan pada Maret 2021 tercatat sebesar 0,401, naik dibandingkan pada September 2020 yang sebesar 0,399 dan Gini Ratio pada Maret 2020 yang sebesar 0,393.

Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok 40% terbawah adalah sebesar 17,76%.

Hal ini berarti pengeluaran penduduk pada Maret 2021 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di perkotaan angkanya tercatat sebesar 16,81% yang berarti tergolong pada kategori ketimpangan sedang.

"Sementara untuk perdesaan, angkanya tercatat sebesar 20,68%, yang berarti tergolong dalam kategori ketimpangan rendah," ujar dia.

(kil/fdl)