3 Tips Bangun Bisnis Sukses dengan Modal Minim

Inkana Putri - detikFinance
Sabtu, 17 Jul 2021 11:45 WIB
shoppeepay
Foto: shoppeepay
Jakarta -

Di tengah pembatasan mobilitas masyarakat, ShopeePay turut mendukung perkembangan bisnis para mitra usaha. Salah satunya dengan kembali menghadirkan ShopeePay Talk bertema' 'Modal Ratusan Ribu, Omzet Ratusan Juta'.

Di episode kali ini, ShopeePay menghadirkan Brand and Marketing Director COTTONINK Ria Sarwono, Owner Ayam Goreng Nelongso Nanang Suherman, serta Entrepreneur & Founder Negeri Pembelajar Edu-tech Fellexandro Ruby. Ketiganya hadir untuk berbagi rahasia bangun bisnis dengan modal minim.

"ShopeePay senantiasa mendukung pertumbuhan dan perkembangan bisnis para mitra usaha, tak terkecuali bagi yang baru mau memulai kiprahnya dalam dunia bisnis. Kami memahami bahwa modal kerap kali menjadi salah satu aspek pertimbangan utama seseorang dalam mulai berbisnis. Padahal, strategi bisnis dan pemilihan target pasar yang tepat dapat menjadi sebuah landasan dasar untuk membangun bisnis yang menghasilkan walaupun dengan modal yang relatif kecil," ujar Head of Strategic Merchant Acquisition ShopeePay, Eka Nilam Dari dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/7/2021).

"Kehadiran ShopeePay Talk kali ini diharapkan dapat menginspirasi dan memperkaya insight para pelaku usaha yang ingin memulai bisnis serta membekali kiat praktis dalam mengelola bisnis dengan modal minim," imbuhnya.

Bagi para calon pebisnis, berikut beberapa strategi untuk membangun bisnis dengan modal ratusan ribu.

1. Tentukan Target Pasar dan Jadilah Solusi bagi Mereka

Menciptakan sebuah ide bisnis dapat dimulai dengan menentukan target pasar. Selanjutnya, pelaku usaha dapat mulai menciptakan solusi dari permasalahan yang dimiliki oleh target pasarnya. Dengan begitu, para pelaku usaha dapat membangun strategi bisnis yang tepat dan menciptakan produk maupun jasa yang sesuai.

Seperti Nanang, berawal dari modal ratusan ribu dirinya memutuskan untuk menyasar mahasiswa sebagai target pasar bisnisnya. Hingga kini, Ayam Goreng Nelongso masih tetap konsisten menawarkan menu dengan harga terjangkau.

"Berawal dengan modal sebesar Rp 500.000, saya mulai merintis Ayam Goreng Nelongso yang saat itu hanya memiliki satu jenis menu. Menu andalan kami kala itu adalah paket nasi dengan sayap ayam dan sambal yang kami jual seharga Rp 5.000 saja. Saya sengaja membuat paket menu murah meriah karena sejak awal saya bertekad untuk menyasar mahasiswa sebagai target pasar. Itulah sebabnya, Ayam Goreng Nelongso hingga sekarang selalu konsisten menghadirkan beragam menu terjangkau yang ramah bagi kantong mahasiswa," katanya.

Untuk mengembangkan bisnisnya, Nanang juga terus beradaptasi dengan kebiasaan target pasarnya. Salah satunya dengan menghadirkan pembayaran digital melalui ShopeePay. Hal ini mengingat mahasiswa cenderung melakukan pembayaran cashless.

"Selain itu, kami juga terus berupaya menerapkan strategi bisnis yang sesuai untuk menjangkau target pasar kami seperti mendirikan gerai dekat area kampus, tempat kos, hingga menyediakan pembayaran digital seperti ShopeePay karena anak muda lebih suka cashless dan gemar mencari promo cashback agar lebih hemat. Saat ini, Ayam Goreng Nelongso memiliki 71 gerai yang tersebar di Indonesia," ungkapnya.

2. Manfaatkan Platform Digital

Di sisi lain, Ria mengatakan dalam berbisnis pelaku usaha juga perlu memanfaatkan platform digital guna menjangkau konsumen dan bersaing dengan bisnis lainnya. Terlebih, pandemi menuntut masyarakat untuk beradaptasi dengan transformasi digital.

"Perjalanan saya dan Carline Darjanto, Creative Director COTTONINK membangun brand ini dimulai dari satu langkah yang cukup sederhana. Modal yang kami keluarkan pun tidak seberapa tetapi kami mencoba untuk memasarkan barang yang sesuai dengan tren dan diminati pasar pada saat itu. Bisa dibilang dari dulu hingga sekarang, platform digital memiliki peranan yang cukup signifikan dalam pertumbuhan COTTONINK, mempertemukan kami dengan konsumen dari Sabang sampai Merauke, bahkan Internasional sekalipun," paparnya.

Tak hanya memperluas bisnisnya, platform digital dikatakan Ria juga memberi pengalaman belanja yang nyaman bagi konsumen.

"Kami percaya bahwa komitmen inilah yang membawa COTTONINK tumbuh sampai seperti sekarang. Di sisi lain platform digital memberikan pengalaman belanja yang efisien dan efektif bagi pelanggan setia COTTONINK, termasuk adanya opsi layanan pembayaran digital yang memudahkan konsumen ketika berbelanja," katanya.


3. Ukur Risiko dan Maksimalkan Modal Lain

Dalam membangun sebuah bisnis, seorang pelaku usaha juga harus membuat proyeksi bisnis dengan perhitungan yang matang. Dengan demikian, risiko bisnis ke depannya dapat siap dihadapi.

Bagi Fellexandro, modal dalam membangun bisnis sebenarnya tidak hanya soal uang. Menurutnya, membangun bisnis dengan modal minim juga harus disertai dengan dukungan modal lain seperti skill membangun dan menjaga relasi, kreativitas, menggunakan platform digital, berkomunikasi, negosiasi dan kepemimpinan.

"Dalam mengelola bisnis dengan modal yang relatif kecil, pelaku usaha harus kreatif memaksimalkan modal keterampilan dirinya yang lain. Contohnya, pelaku usaha dapat memaksimalkan networking dengan mengajak konten kreator berkolaborasi dalam bisnis yang sedang dirintis. Kolaborasi tersebut dapat dibangun dengan memberikan persentase saham dari keuntungan bisnis. Para konten kreator ini dapat menjadi salah satu kanal pemasaran yang efektif dalam meningkatkan brand awareness," katanya.

Dalam hal ini, ia menjelaskan soft skill juga penting untuk dimiliki dalam berbisnis. Adapun hal tersebut bisa diperoleh dengan terus belajar.

"Pada dasarnya, kesuksesan sebuah bisnis tidak dapat terlepas dari soft skills mumpuni yang dimiliki oleh pendirinya. Namun yang perlu diingat, setiap keterampilan tersebut tentunya selalu dapat dipelajari dan dikuasai asalkan kita tidak pernah lelah untuk terus belajar," pungkasnya.

(mul/mpr)