Strategi Sambungkan Kurikulum Pendidikan dengan Kebutuhan Industri

Tim detikcom - detikFinance
Minggu, 18 Jul 2021 16:01 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Sinergi antara pendidikan vokasi dan industri amat penting dalam peningkatan kapasitas serta kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Saat ini, koneksi antara keduanya belum begitu optimal. Salah satu upaya yang harus ditempuh adalah penguatan konsep link and match kepada pelaku industri.

Pernyataan tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Wikan Sakarinto dalam sebuah webinar series bertajuk Sinergi Ekosistem Riset Terapan sebagai Jembatan Vokasi dan Industri, Jumat (16/7/2021) lalu.

Dia menjelaskan, konsep link and match ini terdiri dari delapan standar. Pertama, kurikulum disusun bersama.

Wikan mengaku, kurikulum akan direfomasi agar lebih berat pada pembentukan karakter dan soft skill daripada hard skill.

"Hard skill dan produktif iya, tetapi kita dikeluhkan karena lulusan kita kurang komunikasi, kurang mampu menghadapi tekanan dunia kerja, kita akan fokuskan kalau kita menyusun kurikulum bersama dengan industri itu soft skill karakternya kuat, hard skill akan otomatis kuat," jelas dia melalui keterangan resminya di Jakarta, Sabtu (17/7/2021).

Selanjutnya pembelajaran berbasis project riil dari dunia kerja (PBL). Tujuannya adalah untuk memastikan hard skill akan disertai soft skill dan karakter yang kuat.

Ketiga, jumlah dan peran guru, dosen, instruktur dari industri dan ahli dari dunia kerja, ditingkatkan secara signifikan sampai minimal mencapai 50 jam per semester, per program studi.

"Jadi, dosen-dosen dari Kadin harus rutin kita hadirkan di kelas. Sejak semester satu, anak-anak kita sudah diekspos dengan kondisi nyata," tambah Wikan.

Poin keempat merupakan optimalisasi magang atau praktik kerja di industri atau dunia kerja. Menurutnya minimal dirancang satu semester sejak awal.

"Jangan sampai langsung lompat ke nomor empat, sedangkan poin 2 dan 3 belum kita lakukan," tuturnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.