Ekspor Pertanian Naik, Guru Besar IPB: Jadi Tumpuan & Harapan Ekonomi

Nurcholis Maarif - detikFinance
Senin, 19 Jul 2021 11:43 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Ilustrasi ekspor/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Guru Besar Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Muhammad Firdaus mengapresiasi pertumbuhan sektor pertanian dari waktu ke waktu. Menurutnya, perlahan tapi pasti pertanian menjadi sebuah jawaban sekaligus harapan dalam membangkitkan ekonomi nasional.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor sektor pertanian pada bulan Juni 2021 mengalami kenaikan sebesar 33,04% (M-to-M) atau sebesar 15,19% secara Y-on-Y. Kenaikan terjadi setelah komoditas tanaman obat, aromatik, rempah, kopi dan sarang burung walet memberi andil besar dalam ekspor selama Juni 2021.

Dengan kenaikan tersebut maka ekspor nonmigas secara nasional menyumbang sebesar 93,36% dari total nilai ekspor Juni 2021 yang mencapai US$ 18,55 miliar atau naik sebesar 9,52% jika dibandingkan dengan ekspor pada Mei 2021.

"Berita baik dari BPS ini menunjukkan bahwa sektor pertanian memang sektor yang menjadi tumpuan dan harapan untuk ekonomi kita tetap bisa bangkit pada saat pandemi COVID-19 ini," ujar Prof Firdaus dalam keterangan tertulis, Senin (19/7/2021).

Prof Firdaus mengatakan berbagai komoditas pertanian yang diekspor dari waktu ke waktu ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki beragam komoditi yang berpeluang besar menguatkan perdagangan internasional.

"Di luar negeri produk-produk semacam sarang burung walet, rempah tanaman obat termasuk juga di dalamnya kopi dan teh saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat dunia. Dan produk itu hanya dimiliki oleh kekayaan alam di Indonesia," katanya.

Adapun jika menilik perdagangan internasional, Prof Firdaus menilai sektor pertanian masih menguat seperti dalam kondisi normal. Hal ini bisa dilihat dari berbagai laporan dan data yang disampaikan organisasi internasional seperti FAO dan WTO.

"Untuk di Indonesia sendiri sudah terbukti bahwa sektor pertanian baik di dalam negeri ataupun untuk pasar internasional tetap meningkat dan bahkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi utama. Karena itu, membangun pertanian dan terus meningkatkan nilai tambah dan sektor pertanian adalah tugas yang harus kita lakukan dengan sangat serius pada saat ini dan ke depannya," katanya.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri mengatakan kenaikan ekspor pada beberapa tahun ini merupakan bukti bahwa berbagai program di Kementerian Pertanian sudah berada di jalur on the right track, sesuai arahan pimpinan Syahrul Yasin Limpo.

"Kementan menjalankan program KUR (Kredit Usaha Rakyat), kemudian akselerasi ekspor melalui Geratieks (gerakan tiga kali ekspor) yang mengakomodir semua pelaku usaha untuk membuka peluang lapangan kerja yang bermuara pada ekspor dan kesejahteraan petani. Semua program tersebut sudah berjalan dalam koridor yang ada," katanya.

Sementara itu, konsistennya pertumbuhan sektor pertanian di masa pandemi ini tidak lepas dari kolaborasi semua pihak dalam mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern. Kenaikkan NTP, NTUP dan ekspor pertanian adalah bukti bahwa sektor ini menjadi bantalan perekonomian bangsa ditengah pandemi COVID-19.

"Apalagi kebijakan dan intervensi pemerintah dari hulu hingga hilir terus membuahkan hasil positif untuk pertanian dan pangan. Mentan Syahrul Yasin Limpo terus mendorong kebijakan dengan menjaga keseimbangan intervensi program di hulu dan hilir," tutupnya.

(akn/hns)