BPKH Kelola Dana Haji Rp 150 T, Apa Kabar Rencana Investasi di Saudi?

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 20 Jul 2021 17:00 WIB
Komisi XI DPR RI melanjutkan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di Nusantara I, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (21/9/2016). Salah satunya yang mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) mantan Dirjen PHU Kementerian Agama, Anggito Abimanyu,
Anggito Abimanyu/Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Ketua Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Anggito Abimanyu mengungkapkan dana haji yang dikelola mencapai Rp 150 triliun. Dari investasi dana haji, didapatkan manfaat triliunan rupiah.

"Sampai 2021 dana haji yang dikelola sudah cukup tinggi yaitu lebih dari Rp 150 triliun. Dari investasi tersebut manfaatnya sudah mencapai sekitar Rp 8 triliun. Penerimaan kami sudah di atas Rp 14 triliun dengan dua kali musim haji. Pendapatan dari nilai manfaat kami sudah di atas segitu. Tahun ini bisa lebih tinggi dan mendapatkan nilai manfaat yang cukup baik meskipun di tengah pandemi," jelas Anggito dalam webinar, dikutip Selasa, (20/07/2021).

Terkait investasi yang digunakan oleh BPKH, Anggito mengungkap tidak banyak investasi yang dilakukan BPKH. Namun hingga saat ini BPKH masih berinvestasi pada investasi surat berharga. Menurut Anggito investasi itu telah memberikan imbal hasil yang bagus dan aman.

"Kami sudah mendapatkan return yang bagus dan aman itu modal utama ya nanti setelah ini bisa masuk ke investasi yang high return. Portofolio investasi tidak banyak sekarang, aset syariah pun sedikit sekali sehingga kita gunakan investasi surat berharga yang risikonya termitigasi karena dijamin oleh negara," imbuhnya.

"Tidak berarti kalau kita investasi ke sukuk itu tidak membangun ekonomi karena uangnya dipakai untuk ekonomi melalui pemerintah," lanjut Anggito.

Anggito pun mengaku BPKH sangat berhati-hati dalam mengelola dana haji. Dia mengungkap ada keinginan mendapatkan imbal hasil yang tinggi tetapi, menurutnya banyak risiko besar.

"Kami mengelola dana dengan penuh hati-hati dan aman. Memang ada keinginan untuk mengejar return, tapi kalau return lebih tinggi pasti risiko lebih besar," kata Anggito.

Untuk opsi investasi di Arab Saudi, Anggito mengatakan rencana itu memang belum terealisasikan karena situasi pandemi saat ini. Dia menargetkan rencana bisa berinvestasi di luar negeri terutama di Arab Saudi akan terealisasikan pada 2022

"Mohon sabar aja. Sekarang belum bisa karena dari semua tim BPKH tidak ada yang mau mengeksekusi di saat market belum menentu dan situasinya yang belum memungkinkan. Mudah-mudahan tahun 2022 kita bisa masuk secara global terutama ke Arab Saudi sehingga dapat memberikan nilai manfaat untuk calon jemaah haji," tutupnya.

Sebagai informasi, dalam catatan detikcom sebelumnya,Anggito pernah melaporkan dana haji yang dikelola oleh BPKH mencapai Rp 136 triliun per 30 Juni 2020. Anggito menjelaskan dana kelola ditempatkan di bank syariah Rp 54,8 triliun. Lalu untuk investasi di sukuk Rp 49 triliun, di reksa dana syariah Rp 31 triliun, di investasi langsung dan lainnya Rp 1,1 triliun. Kemudian nilai manfaat Rp 3,4 triliun.

(ara/ara)