Perpanjangan PPKM Berakhir Besok, Saatnya Dilonggarkan?

Siti Fatimah - detikFinance
Sabtu, 24 Jul 2021 15:04 WIB
Lonjakan kasus COVID-19 di RI membuat Indonesia dijuluki sebagai episentrum COVID-19 dunia yang baru. Ragam upaya pun dilakukan untuk atasi pandemi di Tanah Air
Iustrasi kondisi PPKM/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 berakhir besok, Minggu (25/7). Rencananya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melonggarkan PPKM pada 26 Juil jika sektor ekonomi catatan kasus COVID-19 menurun.

"Jika tren kasus terus mengalami penurunan, maka tanggal 26 Juli pemerintah akan melakukan pembukaan secara bertahap," kata Jokowi melalui konferensi pers yang disiarkan di akun YouTube Sekretariat Presiden pada Selasa lalu (20/7).

Menanggapi hal tersebut, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah sepakat dengan keputusan pemerintah dalam relaksasi tersebut. Dia menilai, kegiatan ekonomi masyarakat menengah ke bawah harus diprioritaskan untuk mendapatkan relaksasi.

"Relaksasi itu khususnya dilakukan pemerintah pada sektor-sektor ekonomi rakyat, pedagang kaki lima dan pedagang pasar traditional. Sebenarnya ini kompromi yang dilakukan pemerintah dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat," kata Piter kepada detikcom, Sabtu (24/7/2021).

Lebih jauh, jika kegiatan ekonomi masyarakat dilonggarkan tentu akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2021. Meski begitu, kata Piter, tergantung pada realisasi penerapan PPKM Level 1-4.

"Bergantung realisasi dari PPKM-nya. Kalau PPKM level 4 sampai dengan September pertumbuhan ekonomi akan jauh turun bisa kembali negatif. Tapi kalau Agustus sudah PPKM level 1, kontraksi ekonomi akan minimal, pertumbuhan ekonomi kuartal III akan positif," jelasnya.

Sementara itu, Director Political Economy & Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan menilai, pada kuartal III-2021 pertumbuhan ekonomi diprediksi menyentuh angka 0,1% year on year (YoY). Sedangkan keseluruhan di tahun 2021 pertumbuhan ekonomi diperkirakan maksimal tumbuh 1,2%.

"Q3 konsumsi akan turun dibandingkan Q2, salah satunya ada PPKM (darurat), dan diperkirakan setidaknya akan sampai Agustus. Selain itu, angka COVID-19 jauh lebih tinggi di Q3 dibandingkan Q2. Penurunan 0,5% saya kira termasuk konservatif," jelas Anthony.

Sementara itu, di kuartal IV pihaknya menilai selalu lebih rendah dari kuartal III seperti yang terjadi pada 2020. Padahal tahun lalu, kata dia, PSBB sudah direlaksasi sekaligus bersamaan dengan jadwal kampanye Pilkada.

"Kalau saya sejak awal berpendapat harus lockdown sampai positivity rate sesuai rujukan WHO yaitu di bawah 5%. Indonesia saat ini masih sekitar 30%, belum waktunya relaksasi. PPKM Darurat tidak bisa menurunkan positivity rate apalagi pakai level-levelan," imbuhnya.

Dia menambahkan, pemerintah perlu 'memberi nafkah' yang cukup kepada rakyat yang terkena dampak PPKM. Setelah kebutuhannya dicukupi, masyarakat pun harus taat melaksanakan peraturan dan kewajibannya.

(hns/hns)