IMF Turunkan Proyeksi Ekonomi RI, Pemerintah Harus Apa?

Siti Fatimah - detikFinance
Rabu, 28 Jul 2021 15:37 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 3,9% tahun 2021 dan 5,9% untuk 2022.

Para ekonom mewajarkan revisi yang dilakukan oleh IMF. Bahkan, angka tersebut dinilai masih terlalu tinggi untuk ekonomi nasional tahunan di Indonesia.

Director Political Economy & Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan mengatakan, IMF terlalu sering melakukan revisi karena sebelumnya pada April pun menurunkan prediksi di 4,3%.

"Perkiraan ini masih terlalu tinggi. IMF sudah seringkali revisi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke bawah, artinya perkiraannya sering kali meleset jauh," kata Anthony kepada detikcom, Rabu (28/7/2021).

Dia mengatakan, ada beberapa faktor yang memberatkan ekonomi nasional untuk tumbuh diantaranya konsumsi rumah tangga yang tidak bisa segera pulih dan kondisi ekonomi masyarakat kelompok bawah.

"Mereka (kelas bawah) tidak ada tabungan. Mereka harus dapat kerjaan, baru bisa belanja konsumsi. Sedangkan lapangan kerja baru tidak ada, bahkan sekarang terancam PHK di banyak tempat yang terkena dampak PPKM," ujarnya.

Oleh sebab itu, kata dia, pemerintah harusnya memberi bantuan kepada rakyat yang kehilangan penghasilannya agar mereka bisa melakukan belanja konsumsi, dan kedua harus menyelesaikan pandemi ini secepatnya.

"Tanpa ini semua, pemerintah harus menerima ekonomi anjlok karena mengejar pertumbuhan ekonomi dengan relaksasi PPKM akan membuat ekonomi justru terpuruk karena masyarakat kelas menengah tahan belanja, mereka takut keluar rumah, apalagi saat ini tingkat penularan sangat tinggi," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah juga mengungkapkan hal serupa. Pandemi mengoreksi terlalu dalam bagi ekonomi.

"Pandemi menyebabkan konsumsi turun drastis, terutama ketika pemerintah memperketat PPKM. Mobilitas masyarakat turun, mereka tidak melakukan aktivitas ekonomi khususnya konsumsi. Kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 56%," kata Piter.

Dia mengatakan, yang dapat membantu ekonomi nasional untuk tumbuh yaitu dari sisi impor dan investasi. Menurutnya, saat ini kegiatan ekspor masih menunjukkan angka positif.

"Ekspor kita terus meningkat disebabkan kenaikan demand dan kenaikan harga. Sementara disisi lain pertumbuhan impor masih terbatas. Yang kedua investasi Masih tumbuh, terutama pada sektor-sektor tertentu yang masih bisa berjalan baik di tengah pandemi," pungkasnya.

(dna/dna)