Risiko di Balik Mesranya Hubungan RI-China

Tim detikcom - detikFinance
Kamis, 29 Jul 2021 22:57 WIB
Jokowi - Xi Jinping KTT APEC
Foto: Dok Kemenpar
Jakarta -

Dominasi ekonomi China di dunia makin kuat, tak terkecuali di Indonesia. Menurut Direktur Institute for Global and Strategies Studies UII Yogyakarta Zulfikar Rachmat peranan China cukup besar dalam perekonomian di Indonesia.

China menjelma menjadi investor terbesar dengan besaran modal yang ditanam di Indonesia mencapai US$ 1,4 miliar pada 2019. Zulfikar juga menilai China telah menjadi partner dagang terbesar Indonesia. Bahkan, menurutnya China makin menancapkan dominasinya di Indonesia dengan penetrasi langsung ke pemerintah daerah.

"Yang unik, China juga mulai aktif melakukan penetrasi langsung ke pemerintah daerah di Indonesia untuk kerjasama ekonomi seperi yang dilakukannya di Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Bengkulu, Sumatera Utara, Sulawesi Utara dan Sulawesi Barat. Hal yang sama juga China lakukan dengan banyak pemerintah daerah di negara-negara lain," kata Zulfikar dalam keterangan tertulis, Kamis (29/7/2021).

Terlebih pada masa pandemi, China menjadi aktor tunggal dalam pemberian alat kesehatan hingga obat-obatan. China pun menjadi penyedia vaksin dalam upaya penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia.

Hal-hal ini lah yang justru menurut Zulfikar harusnya menjadi sorotan dan perhatian. Jangan sampai, Indonesia bergantung pada China.

"Yang agaknya menjadi masalah, Indonesia terkesan telah semakin tergantung dengan China dalam hal ekonomi. Indonesia harus memperjelas posisinya sebagai negara non blok dan dapat meningkatkan bargaining position-nya dalam bernegosiasi dengan China," ungkap Zulfikar.

Beberapa risiko bisa terjadi bila Indonesia semakin bergantung kepada China. Yang pertama adalah terganggunya hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat.

Kemudian, lemahnya posisi tawar Indonesia terhadap China, hal ini mampu memicu impor dari China yang akan semakin meningkat luar biasa, dan dapat menimbulkan sentimen anti China yang menguat di dalam negeri.

Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy Shiskha Prabawaningtyas juga mengatakan Indonesia harus memperkuat daya tawar dengan China.

"Dengan tidak mengesampingkan realitas kemajuan perekonomian China saat ini, Indonesia tentu saja harus tetap meningkatkan bargaining-nya di hadapan China, namun tetap membuka ruang kerjasama," kata Shiskha.

Kerja sama harus ditingkatkan terkait dengan penanganan pandemi COVID-19 karena China telah terlanjur menjadi pemasok utama industri farmasi-obat-obatan, vaksin dan alat kesehatan.

Dia mengatakan hubungan ekonomi yang dibangun Indonesia ke China harus harus melihat ruang value chain dan market, dan juga ruang untuk alih teknologi yang harus dilakukan.

"Perumusan posisi tawar Indonesia harus dilakukan dalam mencari format kemitraan strategis yang memastikan perlindungan terhadap kepentingan nasional Indonesia," kata Shiskha.

(hal/hns)