Sampai Disinggung Joe Biden, Inikah Penyebab Jakarta Bakal Tenggelam?

acd - detikFinance
Jumat, 30 Jul 2021 16:18 WIB
Jakarta -

Ramalan Jakarta bakal tenggelam bukan hanya datang dari Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. Sebelumnya, beberapa pakar dan riset telah memprediksi ibukota Indonesia ini akan tenggelam.

Bahkan, ada yang memprediksi Jakarta tenggelam pada 2050 mendatang. Prediksi tersebut berdasarkan laporan konsultan Verisk Maplecroft, seperti dikutip dari Time dalam catatan detikcom 14 Mei 2021 lalu.

Verisk Maplecroft merilis daftar 100 kota di dunia yang menghadapi risiko lingkungan terbesar. Sebanyak 99 kota di antaranya berada di Asia, sementara Eropa menjadi rumah bagi 14 dari 20 kota teraman. "Sekitar 1,5 miliar orang tinggal di kota yang menghadapi risiko tinggi atau ekstrem," tulis laporan itu.

Peneliti menilai 576 kota terbesar di dunia berdasarkan kualitas udara dan air, tekanan panas, kelangkaan air, kerentanan terhadap perubahan iklim. Serta, keterpaparan lanskap, populasi, ekonomi, dan infrastrukturnya terhadap bahaya alam, seperti gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor.

Wilayah Asia yang berpenduduk terpadat di dunia memberi tekanan pada sumber air dan menambah polusi karena pembakaran batu bara dan bahan bakar biomassa yang meluas. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh faktor geografinya. Misalnya, ada sejumlah kota di Jepang yang berisiko gempa bumi, dan banyak kota di Delta Mekong Vietnam sangat rentan terhadap banjir.

Sedangkan Jakarta yang berpenduduk 10 juta orang, ditempatkan sebagai kota paling rentan di dunia terhadap risiko lingkungan. Naiknya permukaan laut dan penurunan tanah yang disebabkan menipisnya akuifer alami di bawah kota. Sebab, orang memompa air keluar dari tanah untuk minum dan mencuci sehingga menjadikan Jakarta sebagai kota yang diramal paling cepat tenggelam di dunia. Apalagi, banjir yang kerap terjadi membuat Jakarta diprediksi tenggelam pada 2050.

Jakarta juga memiliki polusi udara karena pembangkit listrik tenaga batu bara di dekatnya. Situasinya sangat buruk sehingga pemerintah Indonesia berencana untuk memindahkan ibu kotanya.

Pengamat Tata Kota Yayat Supriyatna mengatakan ramalan Jakarta sebagai kota yang akan tenggelam bukan pertama kali dilakukan. Menurut dia, sudah banyak peneliti, bahkan dari Tanah Air pun pernah merilisnya.

"Sebetulnya ini sudah lama diramalkan, bahkan kajian peneliti Indonesia pun sudah memperkirakan itu, ada yang bilang 2045, ada yang bilang 2050 potensi kenaikan airnya itu sampai Monas dan sekitarnya," ujarnya kepada detikcom.

Menurutnya, penggunaan air tanah di wilayah ibu kota masih dilakukan oleh masyarakat hingga gedung-gedung pencakar langit, seperti kantor hingga pusat perbelanjaan.

"Sebetulnya penurunan permukaan tanah dan kenaikan permukaan air laut, pengambilan air tanah mempercepat (Jakarta tenggelam)," ujarnya.

(acd/fdl)