Wanti-wanti Sri Mulyani: Kondisi Bumi 2030 Bakal Makin Panas!

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 11 Jun 2021 11:27 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani didampingi anggota dewan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan kerangka kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM PPKF) tahun 2022, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (20/05/2021).
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati membeberkan laporan Internasional tentang kondisi dunia di masa yang akan datang. Setelah pandemi COVID-19, dunia akan dihadapkan dengan ancaman perubahan iklim atau climate change.

Sri Mulyani mengatakan suhu bumi pada 2030 bisa naik 3,2 derajat celsius akibat dampak dari climate change. Kondisi itu bakal lebih hangat dibandingkan kondisi saat ini atau pra-industrialisasi.

"Suhunya menjadi 3,2 derajat Celcius di atas pra-industri, jadi lebih hangat lagi dari situasi hari ini pada 2030. 2030 itu tidak lama kalau kita bicara dalam jangka kurang dari satu dekade," katanya dalam Webinar UI, Jumat (11/6/2021).

Dampak dari kenaikan suhu itu, kata Sri Mulyani, akan ada kenaikan permukaan air laut di Indonesia yang sebagai negara kepulauan. Seperti ramalan yang sudah banyak disebutkan bahwa 2030 Jakarta akan tenggelam.

"Indonesia sebagai negara kepulauan juga memberikan konsekuensi yang luar biasa karena kenaikan suhu atau temperatur bumi identik dengan kenaikan permukaan laut karena es yang ada di Kutub Utara dan selatan akan mencair dan itu cukup untuk meningkatkan permukaan laut seluruh dunia," bebernya.

Sri Mulyani mengatakan suhu 3,2 derajat Celsius itu melebihi batas yang bisa ditahan atau dilalui bumi. "Para ahli menyebutkan kenaikan suhu maksimal yang bisa ditahan bumi ini yaitu 1,5-2 derajat Celcius," tuturnya.

Situasi itu disebut tetap akan terjadi meskipun semua negara di dunia melaksanakan Nationally Determined Contributions (NDC), yang menjadi salah satu poin dalam Paris Agreement, kesepakatan yang telah diratifikasi Indonesia lewat UU Nomor 16 Tahun 2016.

NDC lahir agar setiap negara berkontribusi untuk menurunkan emisi mereka masing-masing dan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.

"Jadi perlu target yang lebih ambisius. Untuk NDC yang sudah diumumkan di Paris, Indonesia berkomitmen untuk menurunkan karbon CO2 emition-nya 29% kalau menggunakan upaya dan resources kita sendiri atau penurunannya bisa lebih ambisius ke 41% apabila mendapatkan dukungan dari Internasional karena biayanya luar biasa," sebutnya.

Tonton juga Video: Bunga Sakura di Jepang Mekar Lebih Cepat Jadi Penanda Perubahan Iklim

[Gambas:Video 20detik]



(aid/eds)