Potensi Ekspor Tanaman Hias Gede Banget, tapi Minim yang Mau Garap

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 01 Agu 2021 17:39 WIB
Woman watering flowers
Foto: Getty Images/agrobacter
Jakarta -

Permintaan tanaman hias secara internasional sangat besar. Namun, menurut Menteri Perdagangan M Lutfi potensi ini belum banyak digarap di Indonesia.

Potensi nilai ekspor tanaman hias menurutnya senilai US$ 7,8 juta di dunia atau sekitar Rp 113 triliun. Namun, nyatanya Indonesia cuma memiliki market share sekitar 0,08% saja di seluruh dunia, padahal Indonesia adalah negara agraris.

"Meskipun kita negara agraris, tapi potensi bunga hias ini belum digarap maksimal, nilai ekspornya di 2021 tercatat US$ 7,8 juta. Di 2020 kita baru menempati peringkat ke 51 dunia dengan share ekspor global cuma 0,08%," papar Lutfi dalam webinar Festival Ide Bisnis detikcom yang bekerja sama dengan BNI, Minggu (1/8/2021).

Minaqu, menjadi salah satu UMKM yang melihat potensi tersebut. Menurut Lutfi, unit usaha ini jeli memanfaatkan peluang bisnis yang besar dan baru digarap secara minim di Indonesia.

"Komitmen Minaqu untuk ekspor tanaman hias Indonesia dapat jadi contoh UMKM bisa meningkat dan jeli melihat peluang bisnis yang belum dimanfaatkan dan digarap secara optimal," ungkap Lutfi.

Sebagai gambaran besarnya potensi ekspor tanaman hias, CEO Minaqu Home Nature Ade Wardhana Adinata mengatakan saat ini pihaknya sudah berhasil melakukan ekspor ke 6 negara di Eropa dan Amerika Serikat.

Dia mengatakan Minaqu berhasil bekerja sama dengan 7 distributor tanaman hias di 6 negara tersebut. Totalnya ada 15 juta tanaman hias yang akan diekspor selama dua tahun, dengan nilai kontrak mencapai Rp 2,3 triliun.

"Kami punya kontrak dengan 6 negara, di sana 7 distributor. Ada 15 juta tanaman hias yang akan dikirim selama dua tahun. Itu sekitar Rp 2,3 triliun nilai kontraknya," ungkap Ade dalam acara yang sama.

"Kita ini punya keuntungan sebagai negara dengan beragam bio diversity, mungkin di sini dipandang jadi usaha musiman, faktanya permintaan dari luar ini banyak," lanjutnya.

Ade mengatakan Minaqu cuma dimulai dengan modal sebesar Rp 500 ribu di bulan November 2019, dan dalam 10 bulan awal usahanya ini, Minaqu berhasil menembus omzet Rp 5 miliar sebulan.

"Kami mulai dari tempat kami kok, di halaman belakang rumah yang kecil. Menduplikasi bisnis ini mudah, yang penting kolaborasi, kita nggak mungkin sukses sendiri. Kami kolaborasi dengan petani, dengan perbankan, pemerintah, dan semua stakeholder," kata Ade.

(hal/dna)