Di Tangan Pria Ini, Buah Carica yang Dibilang Hama Bisa Tembus Ekspor

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 02 Agu 2021 16:12 WIB
Carica Paris dan Dodol Pepaya olahan KWT Sido Makmur Semampir Bantul
Foto: dok. detikFood/Istimewa
Jakarta -

Carica adalah sejenis buah pepaya yang banyak tumbuh di dataran tinggi Dieng dan Wonosobo. Bagi masyarakat setempat, pohon Carica awalnya dipandang sebelah mata. Bahkan cenderung disebut sebagai hama.

Namun, bagi Trisila Juantara, pendiri CV Yuasa Food, Carica memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Bahkan kini, Trisila berhasil membawa olahan Carica bisa diekspor ke negara tetangga.

Di tahun 2001, Trisila memulai usaha pengolahan buah Carica dengan beberapa UMKM kecil di sekitar Wonosobo. Dirinya mengaku merupakan bekas karyawan di pabrik pengalengan buah, setelah sempat di-PHK, dia menemukan ada potensi bisnis dari olahan buah Carica.

"Saya punya pengalaman di di industri pengalengan dalam waktu lama, standar ekspor Amerika kami paham sekali. Maka kami analisa sederhana saja melihat Carica. Ternyata Carica punya nilai tinggi," ungkap Trisila dalam webinar Festival Ide Bisnis detikcom yang bekerja sama dengan BNI, Minggu (1/8/2021).

Namun, saat itu dia menghadapi tantangan untuk bisa mendapatkan Carica, pasalnya buah ini tidak banyak ditanam petani. Bahkan bagi para petani lokal, buah ini cuma jadi hama dan tidak memiliki nilai ekonomi.

"Carica belum dikenal banyak orang, bahkan petani itu nggak mau tanam, mereka melihatnya ini cuma hama. Mereka menganggap nggak ada nilai ekonomisnya, ketimbang Carica mereka memilih tanam sayur atau kentang," kata Trisila.

Butuh setidaknya lima tahun untuk bisa menumbuhkan keinginan kepada petani lokal menanam Carica agar bisa diolah. Dia mengatakan sangat sulit mengajak petani, apalagi petani yang masih muda, kebanyakan hanya petani sepuh yang mau menanam Carica.

"Kita pelajari psikologis petani, mereka akan belajar pakai mata, kala angka perhitungan data nggak mempan. Kalau dia lihat sendiri maka mereka akan yakin itu lah metodenya. Pada awalnya petani yang tertarik juga yang sepuh-sepuh, yang muda masih menganggap sebelah mata," ungkap Trisila.

Kini usahanya semakin maju, dengan bekerja sama dengan perusahaan Singapura, CV Yuasa Food melakukan ekspor produk olahan Carica ke Singapura, Thailand, hingga Malaysia. Ekspor dilakukan sejak tahun 2016-2019.

Setidaknya ada 1 kontainer olahan Carica yang dikirim ke 3 negara tersebut. Per kontainernya ada 8 ton bahan jadi dalam bentuk frozen food dan kemasan biasa.

CV Yuasa Food yang dipimpin Trisila berhasil mendapatkan omzet Rp 3 miliar per tahun saat ini. Padahal di masa awal membesut Yuasa Food, Trisila tak banyak mengeluarkan modal, untuk mesin pengolahan saja boleh meminjam.

"Modal kami nggak besar, kami cuma karyawan kena PHK kok waktu itu. Tapi kami punya potensi modal relasi, modal karena silaturahmi. Banyak lembaga ada mesin, tapi nggak digunakan optimal kami ajak kerja sama saja. Kami pinjam," ungkap Trisila.

"Alhamdulillah juga dengan pengetahuan yang kami miliki, dulu saya SMK pertanian, Carica jadi bisa dikonsumsi dengan berbagai olahan," katanya.

(hal/dna)