Benarkah Ikoy-ikoyan Bikin Netizen Terbiasa Minta-minta?

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 04 Agu 2021 17:11 WIB
Big Win. Creative Collage Of Asian Girl With Smartphone In Hands Celebrating Victory Under Money Shower Of Dollar Banknotes
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Prostock-Studio
Jakarta -

Ikoy-ikoyan yang lagi populer di Instagram menimbulkan pro dan kontra. Ada yang menyambut baik aksi bagi-bagi hadiah dari para selebgram itu, tapi ada juga yang memandang tren ini menimbulkan kebiasaan buruk bagi netizen Indonesia, yakni minta-minta.

Ikoy-ikoyan ini berawal muncul dari akun Instagram milih Arief Muhammad @ariefmuhammad. Intinya adalah bagi-bagi uang atau hadiah melalui direct message kepada para follower-nya di Instagram yang dipilih secara acak.

Kata ikoy sendiri merupakan nama panggilan dari salah satu staf Arief Muhammad yang memiliki nama asli Rizqi Fadillah. Nah Arief sendiri sering berbagi hadiah seperti uang, makanan, vitamin hingga ponsel dengan memerintahkan si Ikoy.

Tren ini menyebar ke selebgram lainnya. Mereka ikut serta bagi-bagi hadiah kepada followernya. Namun ada juga selebgram yang enggan melakukan karena dinilai memberikan pengaruh buruk kepada para netizen Indonesia.

Pakar Marketing yang juga CEO Markplus Inc, Hermawan Kartajaya mengatakan, dalam dunia marketing aksi ikoy-ikoyan itu merupakan bentuk PSR (personal social responsibility). Dalam PSR itu ada personal branding yang juga tengah dibangun, sama seperti perusahaan besar yang melakukan CSR.

"Itu kan personal branding dia, yang melakukan juga nggak mungkin ada perhitungannya juga," tuturnya saat dihubungi detikcom, Rabu (4/8/2021).

Menurutnya hal yang wajar jika selebgram berbagi dengan followernya. Karena yang membuat para selebgram kaya juga adalah pengikutnya dengan menjual jumlah follower.

"Selebgram-selebgram ini kan dapat banyak duit, kaya, jadi ya wajar melakukan itu. Menurut saya bagus karena dia juga yang mendapatkan keuntungan juga dari pandemi ini, followernya makin banyak, sehingga dia melakukan PSR. Itu wajar, sangat wajar," tuturnya.

Sementara Pakar Marketing, Yuswohady menjelaskan dalam kacamata marketing, ikoy-ikoyan sama seperti sale promotion yang memberikan diskon atau hadiah tertentu dalam momen-momen tertentu. Tentu hal yang wajar jika konsumen berharap hal yang menguntungkan dia.

Balik ke ikoy-ikoyan, Yuswohady mengibaratkan itu sebagai momentum bagi para netizen atau follower untuk meminta bagiannya. Sebab selama ini para follower tersebut dimanfaatkan para selebgram untuk mendulang keuntungan. Mereka menjual jumlah follower untuk mendapatkan iklan ataupun endorsement.

"Jadi itu dalam tanda kutip balas dendam para netizen, karena follower mereka dijadikan komoditi, atau bahasa saya currency. Semakin banyak follower nilainya semakin tinggi. Bahasanya si follower 'selama ini kan kamu dapat keuntungan dari kami, ya saatnya kami minta bagiannya' ya kira-kira seperti itu," tuturnya.

Menurut Yuswohady sah-sah saja jika ada pihak yang menilai ikoy-ikoyan menimbulkan budaya minta-minta bagi netizen Indonesia. Namun pihak yang dimintai pun merupakan pihak yang memang layak karena selama ini sudah mengeksploitasi para followernya.

"Netizen merasa dieksploitasi oleh para selebgram, sekarang mereka minta bagiannya. Logikanya jadi transaksional," tutupnya.

(upl/upl)