Pengusaha Mau Sektor Esensial Dibuka 100%: Banyak yang Tak Punya Tabungan

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 04 Agu 2021 18:16 WIB
Sejumlah pekerja berjalan di jalur pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (2/7/2021). Pemerintah akan menerapkan PPKM Darurat di Pulau Jawa dan Bali mulai 3 Juli mendatang, salah satunya mewajibkan menerapkan work from home (WFH) atau bekerja dari rumah 100 persen untuk perkantoran yang bergerak di sektor non-esensial. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.
Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Jakarta -

Pengusaha tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ingin agar sektor esensial bisa beroperasi 100%. Sebab, banyak masyarakat yang sudah tak punya tabungan dan butuh gaji.

Hal itu disampaikan Ketua Kadin Arsjad Rasjid dalam penandatanganan nota kesepahaman kerja sama antara Kadin dan PMI, Rabu (4/8/2021).

"Bahwa saat ini juga kami menginginkan di mana esensial business untuk bisa beroperasi 100% kembali di mana diharapkannya bahwa ini dapat membantu secara ekonomi. Karena banyak temen-temen kita, saudara-saudara kita yang tidak mempunyai tabungan dan perlu yang namanya gaji harian," katanya.

Meski demikian, dia menekankan, vaksinasi tetap menjadi hal yang terpenting. Lebih lanjut, dia menuturkan, kebijakan yang diambil saat ini harus menimbang tiga hal. Pertama kesehatan harus diutamakan, kedua ekonomi harus jalan, dan ketiga ialah masalah sosial harus diatasi.

"Segitiga inilah menjadi apa yang Kadin bawa, suara Kadin kepada pemerintah," katanya.

Sebagai tambahan, dalam kerja sama antara Kadin dan PMI, kedua belah pihak akan saling membantu menyediakan dana, pendonor dan pendistribusian terkait plasma konvalesen. Arsjad mengatakan, adanya kerja sama ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam penanganan pandemi COVID-19.

Saat ini, kata Arsjad operasional donor plasma konvalesen masih dilakukan secara manual, terutama di daerah-daerah, yang memang sarana prasarananya masih terbatas. Padahal, sambung Arsjad, untuk melakukan proses plasma konvalesen itu, dibutuhkan alat aferesis yang merupakan alat untuk menyaring semua komponen yang ada di darah.

"Melalui penandatanganan nota kesepahaman ini, Kadin Indonesia berharap dapat berpartisipasi aktif membantu PMI, misalnya dengan pengadaan alat aferesis yang berfungsi memisahkan sel darah merah, sel darah putih, trombosit dan konvalesen. Alat ini sangat dibutuhkan, terutama di daerah-daerah. Jadi, Kadin Indonesia akan merangkul mitra dan anggota Kadin untuk memberikan dan menggalang bantuan dana atau materi terkait kebutuhan plasma konvalesen," terang Arsjad.

(acd/fdl)