Pentingnya Informasi Iklim untuk Tingkatkan Produktivitas Hortikultura

Khoirul Anam - detikFinance
Minggu, 08 Agu 2021 21:44 WIB
Kementan
Foto: Dok. Kementan
Jakarta -

Drektorat Jenderal Hortikultura melakukan bimbingan teknis terhadap para petani. Bimbingan yang dilakukan secara daring melalui Zoom Meeting dan YouTube ini mengangkat tema 'Penerapan Informasi Iklim untuk Mendorong Budidaya Hortikultura'.

Adapun hal ini sejalan dengan imbauan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk terus memberikan pendampingan kepada para petani dan petugas lapang

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, mengatakan bahwa implementasi manajemen iklim turut mendukung dalam suksesnya budi daya pertanian. Informasi iklim merupakan hal yang penting dalam rangka peningkatan produksi dan nilai tambah produk hortikultura.

"Perlunya kombinasi sains, teknologi, dan ilmu leluhur untuk mencegah distorsi dalam produksi pangan sehingga produksi pangan tidak terhambat. Prediksi terhadap iklim makro maupun mikro serta penentuan jadwal tanam yang tepat untuk menentukan langkah adaptasi dan mitigasi yang lebih dini dalam penanganan dampak perubahan iklim menjadi hal yang konkret terhadap upaya real menjaga produksi di kampung hortikultura," terangnya dalam keterangan tertulis, Minggu (8/8/2021).

Selanjutnya, Direktur Perlindungan Hortikultura, Inti Pertiwi, menyatakan bahwa dibutuhkan langkah-langkah konkret dalam menangani dampak perubahan iklim di Indonesia.

"Kita membutuhkan strategi dalam menyikapi perubahan iklim dengan cara antisipasi, adaptasi, dan mitigasi. Dalam hal ini pemanfaatan informasi iklim sebagai langkah adaptasi dengan menerapkan perencanaan budidaya tanaman dan penentuan jadwal tanam. Kita juga perlu waspada terhadap iklim ekstrem yang menyebabkan kebanjiran dan kekeringan. Selain itu perlu memperhatikan penggunaan teknologi tepat guna dalam meningkatkan produksi dan produktivitas hortikultura, misalnya varietas tahan cekaman kering/basah, irigasi, dan naungan," paparnya.

Sementara itu, Guru Besar Klimatologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ir. Ruminta, mengatakan bahwa untuk melakukan adaptasi perubahan iklim dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti mengurangi suhu dan radiasi matahari, serta meningkatkan kelembaban dan kadar air tanah. Langkah itu, lanjutnya, bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi naungan, irigasi mikro (fog/mist irrigation), dan mulsa.

"Selain itu, pertanian membutuhkan teknologi smart farming untuk membantu kegiatan budidaya dan mengurangi biaya produksi. Penerapan menggunakan teknologi otomasi digital (Iot) dan kecerdasan buatan (AI), misalnya sensor fisik dan iklim mikro untuk mengukur kondisi fisik dan lingkungan tanaman," tuturnya.

Di samping itu, informasi iklim dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan budi daya hortikultura. Adapun keragaman pola curah hujan di Indonesia menjelaskan pentingnya mengetahui informasi iklim.

Peneliti Ahli Madya Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Aris Pramudia, menjelaskan, beberapa pola curah hujan yang dikenal, antara lain yaitu bimodal, local, monsunal, dan multi pattern.

"Pola curah hujan monsunal artinya memiliki satu kali periode basah dan satu kali periode kering, dengan perbedaan jumlah hujan yang jelas antara periode basah dengan periode kering. Misalnya di Kabupaten Brebes terjadinya bulan terbasah umumnya pada November-Januari dan bulan terkering umumnya pada Agustus-September, juga memiliki curah hujan tahunan berkisar antara 2.049-3.445 mm/tahun," terangnya.

Melihat pola curah hujan yang berbeda-beda pada tiap daerah, lanjutnya, maka dilakukan penyesuaian potensi dan pola tanam pada daerah masing-masing. Ia memaparkan bahwa petani di Kabupaten Brebes mayoritas melakukan awal penanaman pada April-Mei dan Oktober-November.

Selain pengaruh iklim, lanjutnya, penanaman bawang merah di wilayah Kabupaten Brebes juga dipengaruhi oleh kepemilikan lahan, misalnya untuk lahan sewa maka penanaman dilakukan pada bulan Februari-Mei.

(akn/hns)