Sederet Kerja Keras BUMN Kebut Vaksinasi demi Akhiri Pandemi

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Senin, 09 Agu 2021 10:53 WIB
vaksinasi
Foto: detikcom
Jakarta -

Kondisi ekonomi makro dunia tak terkecuali Indonesia mengalami kontraksi akibat pandemi yang berkepanjangan. Hal ini membuat ekonomi Indonesia di tahun 2020 mengalami kontraksi yang cukup dalam, namun terus mengalami perbaikan.

Pada triwulan IV tahun 2020 misalnya, ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar 2,19% (YoY). Meskipun masih terkontraksi, namun realisasi tersebut membaik sejak pandemi melanda Indonesia pada Maret 2020.

Adapun pada triwulan II dan III tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia masing-masing terkontraksi 5,3 dan 3,5 %(YoY). Meski sempat terkontraksi, perekonomian Indonesia pada kuartal II-2021 mampu melesat 7,07%.

Capaian tersebut mencatatkan rekor baru, karena merupakan pencapaian tertinggi sejak kuartal IV-2004. Hal ini juga membuat Indonesia keluar dari jurang resesi, sehingga dapat menjadi momentum untuk kembali memulihkan ekonomi.

Kendati demikian, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia mencatat kenaikan pada kuartal II-2021, namun sejumlah pihak menyebut bahwa kuartal selanjutnya bisa berbalik arah. Alasannya karena pemberlakuan PPKM yang saat ini sudah berlaku lebih dari 1 bulan.

Terkait ramalan perekonomian yang belum pasti ini, sejumlah pihak menegaskan bahwa vaksinasi COVID-19 dapat menjadi kunci pemulihan ekonomi dan kesehatan masyarakat dari masa pandemi.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah misalnya yang mengatakan bahwa untuk mempercepat penanggulangan pandemi selain PPKM, pemerintah memang hanya bisa mengandalkan vaksin.

"Semakin cepat pelaksanaan vaksin semakin cepat terbentuk herd immunity. Dengan demikian pandemi bisa mereda dan pemulihan ekonomi bisa segera dimulai," ujarnya seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (4/8/2021).

Sementara itu, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch Amin Nurdin juga mengatakan vaksinasi menurutnya menjadi salah satu kunci untuk membuat masyarakat percaya diri melakukan aktivitas.

"Saat ini, hanya dengan meningkatkan jumlah penduduk yang sudah divaksin dan kesadaran masyarakat yang tinggi tentang COVID-19 dan vaksin, serta dukungan berbagai elemen masyarakat, tidak hanya pemerintah tapi juga swasta untuk menyukseskan program vaksinasi ini," ujarnya.

"Selain tentu saja masih ada masalah distribusi vaksin yang merata, sehingga hal ini akan dapat mewujudkan kekebalan kelompok dan rasa percaya diri masyarakat untuk melakukan aktivitas ekonomi dan pada akhirnya akan mampu menggerakan perekonomian Indonesia," imbuhnya.

Upaya Pemerintah Kebut Vaksinasi

Hingga saat ini, pemerintah terus mengupayakan vaksinasi terbukti dari rencana suplai vaksin hingga Desember 2021. Mengutip data dari Kementerian Kesehatan, pada Agustus akan datang sebanyak 75 juta dosis vaksin. Kemudian pada September, Oktober dan November secara berturut-turut akan datang 70 juta, 40 juta dan 35 juta dosis vaksin.

Pada bulan Desember akan tambah lagi 38 juta dosis vaksin. Sehingga total vaksin yang akan diperoleh Indonesia sampai akhir 2021 adalah sebanyak 258 juta dosis vaksin.

Angka tersebut belum ditambah dengan perkiraan vaksin yang status pemesanannya belum pasti pengirimannya atau unfix dengan jumlah 72,5 juta dosis. Jika ditotal dengan vaksin yang sudah pasti pengirimannya dengan unfix maka total persediaan vaksin di Indonesia mencapai 331,1 juta dosis vaksin.

Sekadar diketahui saja, Indonesia harus berebut dengan negara lain untuk memperoleh vaksin ini. Ini terjadi lantaran suplai vaksin yang diproduksi sangat terbatas. Kemenkes pernah mengatakan, sumber vaksin yang didapatkan Indonesia berasal dari China, Inggris, Amerika, hingga Jerman. Sehingga, saat ada salah satu sumber pasokan yang bermasalah, Indonesia bisa mendapatkan dari yang lainnya.

Untuk menggenjot vaksinasi ini, pemerintah terus melakukan daya dan upaya agar vaksinasi bisa berjalan lancar. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam paparannya beberapa waktu lalu mengatakan bahwa hingga akhir Agustus, DKI Jakarta dan Bali bisa mencapai 100% target sasaran divaksinasi untuk dosis pertama.

Sayangnya, meski telah diatur sedemikian rupa, pemerintah nampaknya harus bekerja keras untuk menangkal kelompok anti vaksin di Indonesia. Satgas COVID-19 pernah menegaskan bahwa ada sejumlah cara yang dilakukan pemerintah guna menangkal penolakan vaksinasi di masyarakat. Pertama, Pertama akan melakukan edukasi, kampanye vaksin, dilanjutkan dengan prioritas perubahan perilaku di publik merujuk pada disiplin pada protokol kesehatan.

Tak hanya kelompok anti vaksin, hoax alias berita bohong terkait vaksinasi juga masih marak. Untuk itu, masyarakat diminta untuk cerdas dan selektif dalam menerima informasi, sebelum mempercayai dan membagikan informasi tersebut kepada orang lain.

Terkait percepatan laju vaksinasi ini, dilakukan melalui koordinasi antara Pemda, Dinkes hingga TNI Polri sehingga target cakupan vaksinasi dapat tercapai. Kementerian BUMN juga menjadi salah satu pihak yang gencar membuka sentra vaksinasi.

Adapun hingga Maret 2021 ini, perluasan Sentra Vaksinasi COVID-19 Bersama BUMN sudah mencapai lima lokasi. Di antaranya di dua lokasi di Jakarta, Semarang, Banyumas dan Surabaya. Tak hanya Kementerian BUMN yang membuka sentra vaksinasi, sejumlah perusahaan pelat merah juga mengadakan vaksinasi di lokasi yang ditentukan. Sebut saja Pelindo Pelindo III, PT KAI, PT Wijaya Karya, Taspen, dan tak lupa pula perbankan BUMN yaitu BRI, BNI dan Bank Mandiri.

Yang belum lama adalah pada akhir Juni, Sentra Vaksinasi Bersama BUMN mulai digelar di Medan, Sumatera Utara. Bahkan, maskapai penerbangan BUMN, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menyediakan fasilitas layanan vaksinasi COVID-19 bagi penumpang yang telah memiliki tiket penerbangan Garuda Indonesia beberapa waktu lalu.

Selain itu, bank BUMN juga berperan aktif dalam program vaksinasi Otoritas Jasa Keuangan bersama Industri Jasa Keuangan & Kementerian kesehatan.
Program ini menyasar 13 Kota Besar di Indonesia dengan target 112.920 ribu orang.

Selain sentra vaksin, Kementerian BUMN juga tengah menyiapkan pengembangan vaksin merah putih. Yang terbaru adalah melalui kerjasama PT Bio Farma (Persero) dengan Baylor University akan segera memproduksi vaksin merah putih pada Mei tahun depan. Kabarnya, Bio Farma mempunyai line of production baru yang awalnya hanya 1 miliar dosis per tahun, sekarang mempunyai tambahan 500 juta dosis per tahun.

Saat ini, vaksin merah putih dalam proses yang sedang berjalan adalah transisi dari proses penelitian dan pengembangan dengan industri, yaitu Biofarma. Adapun uji klinis paling lambat dilakukan awal tahun depan.

Setelah uji klinis dilakukan, delapan bulan kemudian diharapkan bisa mengantongi ijin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA). Vaksin Merah Putih merupakan program yang diikuti 7 lembaga dan universitas yang ada di Indonesia. Salah satunya Universitas Airlangga yang bekerja sama dengan PT Biotis.



Simak Video "AS Mulai Vaksinasi Covid-19 untuk Anak di Bawah 5 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)