Pilih WFH Permanen, Karyawan Google Bakal Kena Potong Gaji

Tim detikcom - detikFinance
Selasa, 10 Agu 2021 22:18 WIB
Karyawan Google Demo
Foto: Reuters
Jakarta -

Pandemi COVID-19 telah memaksa Google menerapkan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) kepada karyawannya. Kini perusahaan punya rencana kebijakan baru lagi, jika karyawan memilih WFH permanen maka gajinya akan dipotong.

Melansir Reuters, Selasa (10/8/2021), rencana pemangkasan gaji untuk karyawan Google jika memilih WFH permanen merupakan eksperimen yang sedang ramai dilakukan para perusahaan di Silicon Valley. Perusahaan besar lainnya juga menerapkan kebijakan tersebut.

Facebook dan Twitter misalnya, juga sudah memotong gaji untuk karyawan jarak jauh yang pindah ke daerah yang biaya hidupnya lebih murah. Perusahaan teknologi kecil seperti Reddit dan Zillow telah beralih ke model pembayaran agnostik lokasi.

Google Alphabet Inc sendiri tengah menawarkan kebijakan serupa kepada karyawan dengan menunjukkan hitung-hitungannya. Namun dalam kenyataannya, beberapa karyawan terutama mereka yang bekerja dengan jarak yang jauh dari kantor tetap akan mendapatkan pemotongan gaji meskipun tanpa mengubah alamat mereka.

"Paket kompensasi kami selalu ditentukan oleh lokasi, dan kami selalu membayar lebih tinggi dari pasar lokal berdasarkan tempat seorang karyawan bekerja," ujar pihak Google, dikutip dari Reuters Selasa (10/8/2021).

Seorang karyawan Google yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dia tinggal di kota yang tidak jauh dari kota kantornya, dan dia tetap akan dikenakan pemotongan gaji sekitar 10% jika WFH secara permanen. Dirinya pun mempertimbangkan untuk tetap kerja di kantor agar gajinya tidak dipotong.

"Ini adalah pemotongan gaji yang besarannya seperti yang saya dapatkan dalam promosi terakhir saya," katanya

Jake Rosenfeld, seorang profesor sosiologi di Universitas Washington di St. Louis yang meneliti penentuan gaji, mengatakan bahwa struktur gaji Google menimbulkan kekhawatiran tentang siapa yang akan merasakan dampak paling parah, termasuk keluarga.

"Yang jelas Google tidak harus melakukan ini," ucapnya.

(das/hns)