PLN Bangun Pembangkit Batubara 15 Ribu MW Hingga 2015

PLN Bangun Pembangkit Batubara 15 Ribu MW Hingga 2015

- detikFinance
Kamis, 30 Mar 2006 00:03 WIB
Jakarta - PLN akan membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara hingga 15 ribu MW hingga pada tahun 2015. Dengan demikian, kebutuhan batubara untuk pembangkitan listrik di dalam negeri pada tahun 2015 diperkirakan mencapai 90 juta ton. Hal itu berarti pertumbuhan permintaan batubara sebesar 62 juta ton untuk sektor kelistrikan dalam jangka waktu 9 tahun. Direktur Transmisi dan Distribusi PT PLN (Persero), Herman Darnel Ibrahim, dalam sebuah diskusi di Gedung WTC, Jalan Sudirman, Jakarta menyatakan, saat ini dengan kapasitas pembangkitan sebesar 8.500 MW, total konsumsi batubara seluruh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang ada mencapai 27-28 juta ton per tahun. "Tahun 2015 total produksi listrik PLN diprediksi sebesar 250 miliar kWh, jadi butuh pembangkit dua kali lebih besar daripada yang sekarang, itu kapasitasnya sekitar 53.000 MW," ujarnya, Rabu (30/3/2006). Herman menjelaskan, pertumbuhan kebutuhan itu sejalan dengan strategi pemerintah yang mengarahkan pembangkitan listrik di masa depan menggunakan bahan bakar batubara berkalori rendah yang cadangannya melimpah di Indonesia. Langkah itu bahkan telah dimulai dengan pencanangan program konversi pembangkit listrik berbahan bakar minyak ke batubara serta penambahan pembangkit baru dalam dua setengah tahun ke depan dengan total kapasitas 11.000 MW. Menurut Herman, saat ini komposisi pembangkit berbahan bakar BBM adalah sekitar 22 persen dari total pembangkit yang ada batubara mencapai 43 persen. Namun, dengan persentase yang lebih kecil, pembangkit berbahan bakar BBM menghabiskan biaya Rp 45 triliun per tahun, jauh lebih tinggi dibanding biaya pembangkit batubara yang hanya Rp 8 triliun per tahun. "Jadi ke depan batubara memang akan jadi primadona. Bayangkan, setiap kali memakai BBM, PLN rugi Rp1.000 per kWh. Jadi, kalau sekarang itu semakin banyak menjual listrik kita semakin rugi, nanti setelah memakai batubara mudah-mudahan per tahun kita bisa mencetak laba," tuturnya. Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Soedjoko Tirtosoekotjo mengatakan optimistis produsen batubara dalam negeri bisa mencukupi kebutuhan tersebut. Namun, kata dia, PLN dan pemerintah sebaiknya mensosialisasikan hal itu agar kalangan produsen batubara bisa melakukan persiapan untuk memenuhinya."Itu harusnya cepat-cepat disuarakan, sebab proyeksi produksi batubara itu kan datangnya dari konsumen," ujarnya.Dari sisi suplai, lanjut dia, APBI yakin kebutuhan itu bisa terpenuhi karena Indonesia saat ini memiliki banyak perusahaan tambang dengan produksi yang cukup tinggi. Dia menjelaskan, saat ini terdapat 73 pemegang kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Dari jumlah itu, 28 perusahaan telah berproduksi, 4 dalam tahap konstruksi, 12 dalam tahap studi kelayakan, dan sisanya masih eksplorasi. Selain itu, kata dia, 5 perusahaan di antaranya adalah perusahaan batubara kelas dunia dengan produksi yang relatif besar. "Dari lima perusahaan kelas dunia itu saja produksinya sekarang sudah hampir 80 juta ton per tahun. Jadi gap antara suplai dan permintaan ini cuma masalah komunikasi saja," tambahnya. (mar/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads