Pfizer hingga Moderna Diperkirakan Cuan Gede dari Vaksin Dosis Ketiga

Aulia Damayanti - detikFinance
Sabtu, 14 Agu 2021 21:30 WIB
FILE - In this Nov. 9, 2020, file photo, a general view of Pfizer Manufacturing Belgium in Puurs, Belgium. Pfizer and BioNTech say theyve won permission Wednesday, Dec. 2, 2020, for emergency use of their COVID-19 vaccine in Britain, the world’s first coronavirus shot that’s backed by rigorous science -- and a major step toward eventually ending the pandemic.(AP Photo/Virginia Mayo, File)
Foto: AP/Virginia Mayo
Jakarta -

Pfizer Inc, BioNTech, dan Moderna Inc diperkirakan meraup keuntungan miliaran dolar dari pengadaan vaksin COVID-19 dosis ketiga atau booster. Para analis memperkirakan nilainya lebih dari keuntungan pengadaan vaksin flu biasa.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (14/8/2021), Pfizer, BioNTech, dan Moderna secara total mengantongi US$ 60 miliar setara Rp 861 triliun (kurs Rp 14.381) dari penjualan vaksin untuk 2021 dan 2022. Pendapatan itu mencakup vaksin dosis pertama, kedua, dan potensi vaksin booster untuk negara-negara kaya.

Analis memperkirakan pendapatan Pfizer/BioNTech bisa sebesar US$ 6,6 miliar setara Rp 94 triliun pada 2023. Kemudian Moderna pendapatannya bisa mencapai US$ 7,6 miliar setara Rp 109 triliun. Pendapatan miliaran dolar itu didominasi oleh penjualan vaksin dosis ketiga atau booster.

Perusahaan mengatakan orang yang disuntik vaksin COVID-19 dua dosis kemungkinan membutuhkan dosis ekstra. Hal itu untuk mempertahankan perlindungan diri dari waktu ke waktu dan untuk menangkis varian COVID-19 yang baru.

Sekarang semakin banyak daftar pemerintah, termasuk Chili, Jerman, dan Israel yang memutuskan untuk menawarkan dosis booster kepada lansia atau orang dengan sistem kekebalan yang lemah dalam menghadapi varian Delta yang menyebar cepat.

Kamis malam, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS mengesahkan dosis booster vaksin Pfizer dan Moderna untuk orang dengan sistem kekebalan lemah.

Para produsen vaksin mengatakan ada penurunan tingkat antibodi pada orang yang divaksinasi dua dosis setelah enam bulan. Selain itu, perlunya dosis ketiga itu didorong adanya peningkatan tingkat infeksi di negara-negara akibat varian Delta.

Beberapa data awal menunjukkan bahwa vaksin Moderna, yang memberikan dosis lebih tinggi pada awalnya, mungkin lebih tahan lama daripada Pfizer. Namun, masih perlu dibuktikan dengan penelitian apakah hal itu dipengaruhi oleh usia atau kesehatan orang yang sudah divaksinasi.

Kini belum jelas berapa banyak orang yang akan membutuhkan vaksin booster. Selain itu, beberapa ilmuwan mempertanyakan apakah ada cukup bukti vaksin booster diperlukan, terutama untuk orang yang lebih muda dan sehat.

Sementara baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak pemerintah untuk menunda suntikan vaksin booster sampai lebih banyak orang di seluruh dunia menerima dosis awal mereka.

(ara/ara)