Tips Aman Pilih Investasi di Masa Pandemi yang Tak Kunjung Usai

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 15 Agu 2021 19:44 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Pandemi COVID-19 memang telah membuat guncangan di mana-mana, termasuk di sektor ekonomi dan investasi. Tapi bukan berarti kegiatan investasi pribadi harus disetop.

Masa pandemi juga bukan berarti halangan bagi para pemula yang baru mau terjun berinvestasi. Namun perlu diingat, dibutuhkan pertimbangan yang matang untuk memilih instrumen investasi yang tepat di masa pandemi.

Perencana keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho menjelaskan, hal pertama yang harus dilakukan adalah pahami dulu karakter diri dalam berinvestasi. Terutama dalam hal menerima risiko, apakah agresif, moderat atau konservatif.

"Pertama kita harus tahu dulu kriteria kemampuan kita menerima risiko seperti apa. Artinya, untuk orang yang bertipikal agresif, moderat atau konservatif pasti produknya akan berbeda, tidak bisa disamakan," tuturnya kepada detikcom, Minggu (15/8/2021).

Kedua, jika memiliki uang dingin atau uang yang tidak terpakai untuk berinvestasi, tentukan terlebih dahulu berapa lama uang itu bisa diinvestasikan. Misalnya untuk kuliah anak.

"Itu juga menentukan produk yang cocok yang mana nantinya," tuturnya.

Bagi yang merasa dirinya agresif dalam menerima risiko bisa masuk ke instrumen saham ataupun kripto yang memiliki tingkat risiko tinggi. Sebab selama pandemi pasar saham hanya runtuh di awal pandemi COVID-19 berlangsung saja.

Sementara bagi yang memiliki tipe moderat, Andy merekomendasikan untuk membeli surat utang negara.

"Untuk teman-teman yang nggak terlalu berani mengambil produk investasi seperti itu ya pilih yang lain. Sekarang yang paling menarik surat utang negara, seperti obligasi ritel, sukuk ritel. Itu menarik karena imbal hasilnya lebih tinggi dibanding deposito," ucapnya.

Sementara untuk pemula Andy menyarankan agar menggunakan 20-30% terlebih dahulu dari uang nganggur yang dimiliki. Lalu jika sudah terbiasa dengan risikonya bisa ditingkatkan porsinya.

Sebelumnya Young investor yang juga Founder Ternak Uang Timothy Ronald menjelaskan, untuk mengetahui profil risiko diri mudah saja. Misalnya punya uang Rp 5 juta, cukup masukan uang Rp 200 ribu ke aset kripto. Lalu rasakan psikologi Anda ketika harganya turun atau naik.

Nah ketika dengan uang Rp 200 ribu saja membuat Anda tidak bisa tidur, lebih baik jangan sentuh pasar kripto. Itu artinya Anda sangat konservatif.

"Jadi harus tahu profil risiko kalian, kalau moderat atau konservatif jangan pernah sentuh kripto! Pilih yang sesuai profil risikonya. Bisa ke reksadana atau produk obligasi lain. Jadi jangan coba langsung masuk kripto," tegasnya.

Permasalahannya adalah, banyak dari trader newbie yang terjun ke aset kripto tanpa melakukan itu. Mereka serahkan semua uangnya ke aset kript0. Ketika harganya anjlok, mental mereka yang menjadi korbannya.

(das/dna)