La Nyalla Ungkap Ancaman Perang Baru: Perebutan Pangan dan Air Bersih

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 16 Agu 2021 10:08 WIB
Ketua DPD RI La Nyalla (Foto: Tangkapan layar YouTube Setpres)
Foto: Ketua DPD RI La Nyalla (Foto: Tangkapan layar YouTube Setpres)
Jakarta -

Ketua DPD La Nyalla Mattalitti menyatakan di masa depan akan ada ancaman perang dalam memperebutkan pangan dan air bersih. Maka dari itu, menurutnya kemandirian pangan harus dilakukan.

"Kemandirian pangan mutlak harus kita lakukan dengan bonus sebagai negara tropis, karena ancaman perang ke depan adalah perebutan pangan dan air bersih," ungkap La Nyalla dalam Pidato Pembukaan Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2021, Senin (16/8/2021).

Salah satu cara menjaga kedaulatan pangan dan air bersih menurut La Nyalla adalah dengan memastikan industri hulu dijaga. Khususnya industri hulu di sektor yang strategis.

"Oleh karena itu negara harus memastikan industri hulu dijaga. Sebagai negara yang tangguh kita mutlak memiliki heavy industry di sektor strategis," kata La Nyalla.

La Nyalla mengatakan harus ada peninjauan pada struktur ekonomi nasional. Menurutnya, telah terjadi perubahan dengan dalih efisiensi, di mana cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak telah diserahkan kepada pasar.

"Padahal Bapak Koperasi kita Mohammad Hatta telah meletakkan kerangka besar perekonomian nasional dengan pendekatan koperasi, yang harus dimaknai sebagai cara untuk menghimpun dengan tujuan memiliki bersama-sama alat industri atau sarana produksi," papar La Nyalla.

"Anggota koperasi sama seperti pemegang saham di lantai bursa, bedanya tidak dimiliki asing, maka dimiliki oleh warga negara Indonesia," lanjutnya.

Di sisi lain, menurutnya pemerintah juga harus memastikan energi baru terbarukan jadi prioritas dalam mendukung kedaulatan energi salah satunya dengan energi nuklir.

"Kita harus memastikan energi baru terbarukan menjadi prioritas. Termasuk keberanian untuk memanfaatkan nuklir sebagai energi yang relatif lebih murah," ungkap La Nyalla.



Simak Video "Pandemi Covid-19, Perajin Bendera di Karawang Ngeluh Omzet Turun 50%"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/ang)