Trik S3 Marketing Drama Hotman Paris dan Kopi Kenangan

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 16 Agu 2021 19:00 WIB
Hotman Paris
Trik S3 Marketing Drama Hotman Paris dan Kopi Kenangan
Jakarta -

Hotman Paris Hutapea sempat menghebohkan jagat media sosial karena unggahannya yang berisi kekecewaannya kepada Kopi Kenangan. Hotman Paris mengunggah kekecewaannya melalui video yang diunggahnya di Instagram resminya.

"Saya benar-benar kecewa dengan @kopikenangan.id !!! Saya tunggu itikad baik mereka 3x24 jam," tulis Hotman, beberapa hari lalu.

Alih-alih mengancam akan menempuh jalur hukum, ternyata itu hanya drama marketing untuk jualan minuman boba. Hotman Paris mengunggah varian minuman boba dengan Kopi Kenangan yang diberina nama Sultan Boba.

"Ayo Masyarakat Indonesia, ini saatnya kalian merasakan minuman kekinian paling enak dari Sultan Hotman Paris bersama Kopi Kenangan yaitu Sultan Boba, pilihan para sultan dengan boba asli Taiwan!," tulis Hotman Paris.

Managing Partner Inventure, Yuswohady pun menyetujui jika marketing yang dilakukan Hotman Paris dengan Kopi Kenangan disebut S3 marketing. Namun, menurutnya strategi yang digunakan berisiko.

"Iya itu (S3 Marketing) oke-oke saja, setuju tetapi storynya itu ngga jelas. Jadi memang betul harus ada attentionnya. Tetapi brand storynya ngga runut yang membuat orang 'wah keren' ini kan nggak. Ini nih ya sensasi aja, ya bisa saja ini sukses tetapi berisiko," kata dia kepada detikcom, Senin (16/8/2021).

Risiko yang dimaksudnya itu, umur dari brand baru yang diperkenalkan diprediksi tidak bertahan lama. Karena drama yang dibuat oleh Hotman Paris dengan Kopi Kenangan menjadi sebuah gimmick untuk mengundang perhatian publik.

"Kalau brand kolaborasi dengan artis penjualan itu tidak akan sustainable, karena itu hanya mengandalkan ketenaran dan banyaknya follower. Memang itu seperti McDonalds dengan BTS yang viral ramai itu. Jadi memang kalau dengan artis manfaat itu nggak akan lama," jelasnya.

Dia menyarankan jika untuk strategi marketin seperti kolaborasi, tentu harus menyamakan nilai atau value yang diberikan artis atau orang yang diajak kolaborasi kepada perusahaan begitu juga sebaliknya.

"Tetapi harus diingat, kalau mengandalkan endorser yang tidak memiliki background yang sama dengan identitas brand kita, maka jangka panjang kurang. Jadi mesti ada kesamaan antara value yang ditawarkan Kopi Kenangan ke Hotman Paris dan sebaliknya, sehingga mendapatkan sinergi," pungkasnya.

Menurunya jika ada kesamaan value itu, maka dipastikan brand yang akan dibangun lebih bernilai dan jangka panjang. Tetapi kalau tidak memiliki kesamaan nilai, dia mencontohkan seperti Hotman Paris dan Kopi Kenangan yang diprediksi brandnya hanya satu sampai dua bulan.

"Kalau misalnya Hotman Paris dengan Kopi Kenangan ini laris, paling sebulan dua bulan mungkin, ya tetap Kopi Kenangan harus cari lagi siapa yang akan diajak kolaborasi bulan berikutnya. Kalau ganti-ganti terus juga lumayan untuk menambah omzet," katanya.

Terakhir, dia menyarankan jangan hanya mengandalkan ketenaran atau follower dari artis yang diajak kolaborasi. Tetapi juga harus melihat bagaimana background tokoh atau artis yang diajak untuk kolaborasi.

"Kopi Kenangan dengan Hotman Paris ini kan nggak selaras, satunya kopi tetapi satunya di bidang properti, law firm, dengan talkshow. Artinya background itu juga harus diperhatikan. Kalau kita mau mengeluarkan produk itukan untuk jangka tiga sampai enam bulan, kalau backgroundnya bukan kopi gitu kan nggak bisa," pungkasnya.

(fdl/fdl)