Kemenkeu Sebut Target Pengangguran 5,5% di 2022 Realistis, tapi...

Siti Fatimah - detikFinance
Rabu, 18 Agu 2021 13:55 WIB
Sejumlah buruh pabrik pulang kerja di kawasan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (17/4/2020). Center of Reform on Economics memperkirakan jumlah pengangguran terbuka pada kuartal II 2020 akan bertambah 4,25 juta orang akibat pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/FAUZAN
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidato RAPBN 2022 di DPR menyampaikan tingkat pengangguran terbuka (TPT) ditargetkan sekitar 5,5% sampai 6,3%. Selain itu tingkat kemiskinan di 8,5-9%.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik di tahun 2021 saja angka pengangguran terbuka sudah mencapai 6,3%. Menurutnya, di 2022 tentu bisa mencapai di bawah angka tersebut.

"Tadi sudah ditunjukkan sebenarnya untuk 2021 angka penganggurannya sudah di 6,3%. Nah untuk 2022 apakah bisa mencapai di bawah 6,3% tentu bisa. Realistis dengan catatan ada siklusnya," kata Febrio dalam konferensi pers virtual, Rabu (18/8/2021).

Dia mengatakan, syarat utama penurunan angka pengangguran harus dimulai dengan kondisi pertumbuhan ekonomi. Terlebih dengan melihat kondisi pandemi COVID-19 di tahun yang akan datang.

"Pertumbuhan ekonomi itu akan cukup realistis terhadap penurunan tingkat pengangguran. Tentunya kuncinya ada di pertumbuhan ekonomi. Kalau pertumbuhan ekonominya bisa dengan range 3,7 sampai 4,5 ini relatif cukup di 2021 apalagi untuk 2022 nanti," ujarnya.

Senada dengan itu, Elan Satriawan selaku Kepala Kelompok Kerja Kebijakan TNP2PK juga mengatakan, untuk mencapai target penurunan penganggurab terbuka yaitu melalui pertumbuhan ekonomi.

"Jadi kalau pertumbuhan ekonomi terus meningkat maka kemudian kita bisa berharap bahwa TPT nya juga menurun. Nah jadi kita harus bisa memastikan strategi kebijakan sektoralnya, infrastruktur yang tentunya sektor-sektor produktif lain itu terus tumbuh dan saya kira sampai kuartal kedua punya harapan besar itu akan terjadi terus," kata Elan.

Dia mengatakan, proses rebound sudah mulai terlihat namun di saat yang sama perlu didukung oleh strategi mikro. "Jadi kalau kita lihat sektor infrastruktur dan manufaktur itu menyerapnya kebanyakan tenaga kerja yang formal. Nah tetapi yg harus kita perhatikan adalah mereka yang kemudian di sektor usaha mikro dan kecil," ujarnya.

"Mereka mungkin nggak terlalu tersentuh dengan kebijakan-kebijakan besar ini. Tapi untungnya pemerintah punya program BPUM yang tahun 2021 ini bisa menjangkau 12 juta. Lumayan besar walaupun sebetulnya masih setengah dari usaha mikro 25-26 juta. Dan hasil monitoring kami menjangkau target sasaran yang tepat sehingga terasa manfaatnya," pungkasnya.

(fdl/fdl)