Apa Itu Tapering?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 20 Agu 2021 11:17 WIB
The Fed Diperkirakan Naikkan Suku Bunga 3 Kali Tahun 2016
Apa Itu Tapering?
Jakarta -

Bank sentral Amerika Serikat (AS) disebut-sebut akan melakukan pengetatan kebijakan moneter alias tapering. Tapering sendiri akhir-akhir ini sering kita dengar dari para ahli ekonomi. Apa itu tapering?

Berdasarkan laporan CNBC Indonesia, SVP Research Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengungkapkan tapering adalah suatu kebijakan untuk mengurangi nilai pembelian aset, seperti obligasi (surat utang) atau quantitative easing oleh The Fed. Artinya, bank sentral AS akan mengurangi porsi pembelian surat utang dari nilai yang sebelumnya dilakukan.

"Tujuan dilakukannya pengurangan pembelian ini adalah mengurangi risiko apabila terjadi kenaikan suku bunga tiba-tiba. Jadi dilakukannya itu secara gradual atau perlahan," kata Janson dalam program Investime, Senin (7/6) lalu.

Tapering ini dilakukan setelah sebelumnya bank sentral melakukan penurunan suku bunga untuk mengantisipasi perekonomian ke depan. Setelahnya, bank sentral akan melakukan 'pencetakan uang' dengan membeli US treasury hingga mencapai US$ 120 miliar per bulannya.

Lalu, seiring dengan terjadinya pemulihan ekonomi maka bank sentral akan mulai mengurangi pembelian surat utang. Inilah yang disebut taper tantrum. Jadi sudah mulai kebayang kan apa itu tapering? Kemudian apa dampaknya?

Apabila hal tersebut terjadi, maka aliran modal dari AS akan keluar dari negara emerging market dan kembali ke AS. Artinya tapering off atau pengurangan stimulus tersebut dapat membuat aliran modal keluar dari Indonesia. Hal ini tentu dapat memicu gejolak pasar keuangan.

Masih sulit dipahami? Sederhananya, Kalau ekonomi AS membaik, biasanya akan diikuti dengan kenaikan inflasi dan imbal hasil (seperti bunga) atau yield obligasi pemerintah AS.

Nah, kondisi ini akan membuat investor asing ramai-ramai cabut dari pasar keuangan negara emerging market, seperti Indonesia, kembali ke Negeri Paman Sam karena dianggap lebih menarik.

Indonesia tentu bisa repot kalau itu terjadi, karena pasar keuangan Indonesia masih bergantung pada investor asing meski saat ini porsi kepemilikan asing di pasar modal dan SBN semakin menciut.

Dengan kata lain, sudah didominasi investor domestik sehingga pasar keuangan Indonesia tak goyang-goyang amat bila sewaktu-waktu dana asing kabur (capital outflow). Kalau dana asing kabur, dolar AS juga bisa jadi makin tinggi harganya, rupiah bakal melemah.

(fdl/fdl)