Ngenes, Opium Jadi Motor Utama Penggerak Ekonomi Afghanistan

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 22 Agu 2021 22:02 WIB
Bom bunuh diri terjadi di kota Kabul, Afganistan. Setidaknya 50 orang tewas dan 70 orang terluka akibat serangan tersebut.
Foto: Reuters

Afghanistan juga tetap termasuk yang termiskin di dunia. Data Bank Dunia terbaru menunjukkan bahwa hanya enam negara di seluruh dunia memiliki PDB per kapita yang lebih rendah daripada Afghanistan.

Setidaknya seperlima dari PDB Afghanistan diperhitungkan berasal dari perdagangan opium, yang sebagian besar telah dikendalikan oleh kelompok Taliban. Uang haram itu digunakan untuk membantu mempersenjatai kelompok tersebut.

Jika dilihat secara keseluruhan, sektor pertanian menyumbang sekitar setengah dari kegiatan ekonomi di Afghanistan. Pertanian juga menyumbang setidaknya setengah dari seluruh lapangan pekerjaan di negara itu. Di Afghanistan sendiri dua dari lima orang warganya menganggur.

Selain opium, gandum adalah ekspor pertanian utamanya. Meskipun ada juga diversifikasi dalam beberapa tahun terakhir ke tanaman yang lebih berharga seperti kenari, almond, pistachio, kunyit, delima dan kismis. Sayangnya semakin banyak lahan yang dimanfaatkan untuk budidaya opium.

Selain itu, kurangnya investasi di toko pendingin dan fasilitas pengemasan telah menahan kemampuan Afghanistan untuk menghasilkan lebih banyak dari ekspor buah dan sayuran. Setidaknya seperempat dari produk pertanian membusuk setelah dipanen sedemikian rupa sehingga tidak dapat dijual.

Setelah pertanian, sumber utama pendapatan Afghanistan adalah bantuan luar negeri, yang secara tradisional menutupi sekitar tiga perempat dari pengeluaran pemerintah Afghanistan.

Kondisi ekonomi yang sudah buruk itu dipercaya akan semakin buruk setelah Taliban mengambil alih. Namun bukan berarti juga Afghanistan di bawah kendali Taliban tidak memiliki secercah harapan di sektor ekonomi.

Afghanistan kaya akan sumber daya mineral, nilainya diperkirakan mencapai US$ 1 triliun ketika satu dekade lalu. Di dalamnya termasuk deposit litium dan kobalt, keduanya merupakan komponen utama dalam baterai kendaraan listrik, emas, tembaga, dan bijih besi.

Kekayaan itu dipetakan oleh ahli geologi Soviet setelah invasi 40 tahun yang lalu. Baru-baru ini, oleh Pentagon dalam dokumen internal tahun 2010 mengatakan bahwa Afghanistan memiliki potensi untuk menjadi 'Arab Saudi dari lithium'.

Sayangnya, kemampuan Afghanistan untuk mengeksploitasi sumber daya tersebut akan terhambat oleh kurangnya infrastruktur transportasi, jaringan listrik yang dikembangkan dan keahlian teknis. Hanya ada beberapa insinyur pertambangan yang siap untuk menginjakkan kaki di negara itu bahkan sebelum Taliban berkuasa.

Bahkan China Metallurgical Group, yang memiliki hak untuk mengeksploitasi salah satu deposit tembaga terbesar Afghanistan sejak 2007, tidak melakukannya karena khawatir akan faktor keamanan.

China, yang sudah menjadi investor asing terbesar di Afghanistan, akan menjadi mitra logis bagi Taliban jika cadangan mineral negara yang cukup besar akan dieksploitasi. Meskipun kemungkinan akan mendorong tawar-menawar yang sulit dan akan membutuhkan jaminan keamanan yang kuat.

Ashraf Ghani, mantan presiden, menolak permintaan dari China untuk memotong tarif royalti beberapa tahun lalu.

Kekayaan mineral ini juga tidak banyak membantu Afghanistan hingga saat ini.

Banyak dari penambangan yang ada di negara itu ilegal, tidak hanya merampas royalti pemerintah, tetapi juga memberikan pendapatan kepada pemberontak.

Lebih besar dari kekayaan mineral Afghanistan adalah sumber daya manusianya. Negara ini adalah negara muda, dengan dua pertiga populasi di bawah usia 25 tahun, serta negara yang semakin terdidik.

Dari situasi di mana satu dari lima warga Afghanistan buta huruf. Tapi setelah Taliban diusir, telah terjadi ekspansi besar-besaran dalam pendidikan, dengan 10 kali lebih banyak universitas dibandingkan pada tahun 2001.

Penerima manfaat dari perkembangan dunia pendidikan di Afghanistan adalah perempuan dan anak perempuan. Sebelumnya kaum perempuan tidak bisa mengakses pendidikan saat di bawah Taliban.


(das/dna)