Ngenes, Opium Jadi Motor Utama Penggerak Ekonomi Afghanistan

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 22 Agu 2021 22:02 WIB
Bom bunuh diri terjadi di kota Kabul, Afganistan. Setidaknya 50 orang tewas dan 70 orang terluka akibat serangan tersebut.
Foto: Reuters
Jakarta -

Afghanistan kini kembali diambil alih oleh Taliban. Banyak pihak termasuk sebagian besar penduduk negara itu khawatir, Taliban akan merusak negara itu termasuk dari sisi ekonominya.

Melansir Sky News, Afghanistan sendiri terbebas dari Taliban selama dua dekade terakhir. Sepanjang waktu itu pula Amerika Serikat (AS) dan sekutunya menghabiskan miliaran dolar untuk negara itu.

Namun sebagian besar uang itu diinvestasikan untuk melatih polisi dan militer Afghanistan dan menetapkan aturan hukum.

Pembangunan juga lebih diarahkan kepada gedung-gedung tinggi terutama di Kabul. Hanya sedikit yang dianggarkan untuk pembangunan infrastruktur yang sebenarnya bisa mendorong pertumbuhan jangka panjang.

Artinya, bukan berarti ketika AS dan sekutunya mengusir Taliban pada dua dekade yang lalu, membuat ekonomi Afghanistan lebih baik.

Menurut data Bank Dunia, produk domestik bruto (PDB) atau nilai total barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu perekonomian Afghanistan tumbuh dari US$ 4,055 miliar di 2002 menjadi US$ 20,561 miliar pada tahun 2013.

Namun pertumbuhan PDB itu mulai melambat secara drastis. Itu terjadi di 2014, ketika sebagian besar pasukan tempur asing yang menjadi sumber pendapatan utama ekonomi mereka meninggalkan negara itu. Termasuk kepergian Pasukan Bantuan Keamanan Internasional yang didukung PBB.

Pertumbuhan PDB Afghanistan turun dari sekitar 14% pada tahun 2012 menjadi hanya 1,5% pada tahun 2015.

Ada pemulihan berikutnya dari 2016 dan seterusnya, tetapi, pada 2020, nilai ekonomi Afghanistan masih bernilai hanya US$ 19,807 miliar.

Artinya negara ini kembali tergelincir ke dalam jurang resesi pada tahun lalu. Penyebabnya karena wabah COVID-19 dan intensifikasi kerusuhan politik yang mengganggu ekspor.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Tonton Video: Taliban dan Tentara Inggris Bersama-sama Urai Kepadatan di Bandara Kabul

[Gambas:Video 20detik]