Pandemi Bikin Pengunjung Sepi, 5 Mal Terancam Dijual

Dony Indra Ramadhan - detikFinance
Selasa, 24 Agu 2021 21:27 WIB
Mal King centre di bandung
Ilustrasi/Foto: Dony Indra Ramadhan
Bandung -

Lima mal di Bandung terancam dijual. Pemicunya lantaran sepi pengunjung meski pemerintah sudah melonggarkan aturan.

Hal itu dibenarkan Ketua Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Bandung Raya Handianto Lie. Dia menyebut sedikitnya ada 5 mal di Bandung yang terancam dijual.

"Ya kurang lebih begitu. Kalau kepastian belum tahu karena data yang masuk kami bicaranya begitu," ucap Handianto kepada detikcom, Selasa (24/8/2021).

Dia tak merinci mal apa saja yang terancam dijual. Namun dipastikan mal-mal tersebut berdomisili di wilayah Bandung Raya.

Handianto menambahkan alasan lima mal terancam dijual itu dikarenakan minimnya kunjungan. Meski sudah diperbolehkan beroperasi di masa PPKM, dia menilai kunjungan masyarakat ke mal masih sepi.

Dia menyebut dari 50 persen kapasitas yang ditetapkan pemerintah misalnya, kedatangan pengunjung masih di bawah 20 persen atau sekitar 10-15 persen saja. Bahkan ada mall yang jumlah kunjungannya di bawah 10 persen.

"Ya awalnya sih memang sebelum COVID juga ada beberapa yang memang kurang berjalan baik. Ditambah dengan sekarang nih. Kemarin puncaknya waktu PPKM ya nggak kuat lah," kata dia.

Menurut Handianto hal itu jelas mempengaruhi pendapatan pengelola mal itu sendiri. Apalagi, kata dia mall-mall berstatus trade center yang kondisinya kurang.

"Kan bisa lihat sendiri kondisi mal apalagi yang menengah ke bawah kayak Trade center. Itu ya kayak begitu. Karena kalau trade center ini-nya (fokus) belanja. Sementara daya beli berkurang. Kemudian juga orang juga ada rasa takut untuk datang ke mall ditambah sekarang banyak aturan ya, tahu sendiri masyarakat bagaimana," tuturnya.

"Padahal sebenarnya kalau kami dari pengelola mal kita taat, kita jalani segala macem aturan kita jalani. Hanya yang disayangkan itu tadi, mal boleh buka tapi banyak pembatasan. Bukan pembatasan kapasitas ya, kalau kapasitas tidak kami inikan. Kalau kapasitas oke, tapi pembatasan jenis usaha ini tidak boleh buka, nah itu yang berdampak sekali buat kita," kata Handianto menambahkan.

Salah satu yang berpengaruh, kata dia masih adanya pembatasan jenis usaha di dalam mall salah satunya arena bermain atau hiburan. Hal ini tentu mempengaruhi jumlah kunjungan yang berimbas pada pendapatan.

"Bioskop lah kemarin sebelum PPKM sudah boleh buka itu kunjungan mal drastis naik ditambah ada film bagus. Sekarang PPKM tutup nggak boleh lagi buka. Sekarang begini saja, mal sekarang bukan untuk belanja beda dengan 10 tahun lalu. Dulu orang belanja ke mall, kalau sekarang bukan untuk belanja. Orang buat hang out buat jalan-jalan, dia punya uang belanja, ada barang bagus dia beli. Tapi tujuannya bukan buat itu, dia jalan-jalan main yang punya anak, keluarga dia ajak main anaknya ya ortu diem liatin. Terus jalan-jalan ada bagus barang dia beli. Sekarang arena main anak nggak boleh," ucapnya.

Lihat juga video 'Sepinya Mal di Yogyakarta saat Uji Coba Operasional Hari Pertama':

[Gambas:Video 20detik]



(dir/hns)