Kena Potong Gaji saat Pandemi? Ini Tipsnya Biar Nggak Boncos

Siti Fatimah - detikFinance
Rabu, 25 Agu 2021 10:22 WIB
Ilustrasi Uang
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra / detikcom
Jakarta -

Pandemi COVID-19 makin nyata memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat. Beberapa pekerja terpaksa harus mengalami pengurangan atau pemotongan gaji dari perusahaannya.

Lantas, bagaimana ya cara mengatur keuangan saat mengalami kondisi tersebut?

Perencana keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho mengatakan, kondisi tersebut tidak bisa dihindari oleh pekerja. Namun, jangan terlalu putus asa karena masih ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatur keuangan.

"Dalam kondisi krisis seperti sekarang di mana banyak pekerja yang mengalami pengurangan gaji dari tempatnya bekerja, hal tersebut memang tidak bisa dihindari dan di luar kuasa para pekerja itu sendiri. Nah bagi yang mengalami hal tersebut, maka untuk pengaturan keuangannya harus menjadi lebih bijak dan hati-hati lagi," kata Andy saat dihubungi detikcom, Rabu (25/8/2021).

Dia mengatakan, jika mengalami pengurangan gaji maka prioritas utama pengeluaran keuangan harus diutamakan bagi hal-hal yang bersifat wajib dan tak bisa dialihkan, disamping kebutuhan pokok sehari-hari.

"Yang menjadi prioritas pengeluaran adalah kebutuhan yang bersifat wajib dan tidak bisa dinego contohnya adalah bayar PAM, membeli token listrik, uang sekolah anak. Selain itu kita juga menyisihkan uang transport bagi orangtua yang sudah mulai WFO," katanya.

Lebih lanjut, prioritas kedua yaitu untuk pembayaran yang bersifat hutang, cicilan, atau kredit. Tak sedikit, orang yang memiliki cicilan misalnya untuk rumah, kendaraan, atau kebutuhan lainnya.

Andy mengatakan, saat mengalami pemotongan gaji harus ada sebagian dana yang dipisahkan untuk membayar cicilan, kredit atau hutang tersebut. Kemudian, jika dirasa terlalu memberatkan maka Anda bisa melakukan negosiasi dengan pemberi pinjaman agar memberikan keringanan.

"Prioritas utama pengeluarannya adalah pengeluaran untuk pembayaran hal-hal yang bersifat kewajiban semisal cicilan hutang ataupun kredit barang. Karena apabila pembayaran kewajiban ini dilalaikan, maka ada kemungkinan kita akan ditagih oleh pemberi hutang atau bahkan sampai penyitaan barang," ujarnya.

"Namun pada kondisi yang sudah sangat memberatkan, semisal cicilan ini ternyata terlalu besar sehingga memakan porsi kebutuhan lainnya sangat banyak akhinya kebutuhan lain jadi tidak bisa terpenuhi, maka hal pertama yang bisa kita lakukan adalah bernegosiasi untuk meminta keringanan pembayaran," sambungnya.

Selain mengatur pengeluaran, Andy juga mengatakan, ada baiknya kebiasaan pengeluaran yang bersifat hiburan untuk dikurangi. Hal-hal kecil yang tidak dirasakan namun terkadang menjadi sumber pemborosan seperti jajan makanan , snack, dan minuman kekinian hingga pemborosan kuota internet.

"Terkadang penggunaan kuota internet yang berlebihan bisa menjadi sumber pemborosan karena gadget justru tidak digunakan untuk belajar atau bekerja seperti seharusnya, tapi lebih banyak untuk nonton film ataupun main game," tuturnya.

Di tengah kondisi yang kurang menguntungkan bersamaan dengan banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi, maka selain dengan berhemat, pekerja yang mengalami pemotongan gaji bisa mulai dengan memutar otak untuk mencari tambahan penghasilan. Sehingga penghasilan dan pengeluaran dapat diseimbangkan.

"Langkah yang bisa kita lakukan adalah dengan mencari tambahan penghasilan, entah itu dengan bekerja lembur, memiliki pekerjaan sampingan, ataupun bisnis sampingan," tandasnya.

(eds/eds)