Kembangkan Food Estate, Pemerintah Pastikan Persiapan Sudah Matang

Angga Laraspati - detikFinance
Rabu, 25 Agu 2021 11:08 WIB
Personel Bhabinkamtibmas mengecek kondisi alat mesin pertanian (alsintan) bantuan dari pemerintah untuk petani yang terparkir di bengkel alsintan food estate Dadahup di Desa Bentuk Jaya, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Rabu (21/4/2021). Kementerian Pertanian akan mendistribusikan sebanyak 34.356 unit alat dan alsintan untuk mendorong produktivitas pertanian di tahun 2021 terdiri dari Cultivator, Hand Sprayer, Pompa Air, Rice Transplanter, Traktor Roda Dua serta Traktor Roda Empat. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar
Jakarta -

Presiden Jokowi saat ini tengah menggagas program food estate, yakni pengembangan suatu kawasan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan bahkan peternakan. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menerangkan food estate mengimplementasikan berbagai hal secara komprehensif mulai dari hulu hingga hilir.

"Program food estate ini memiliki beberapa ciri khas yaitu mengelola multikomoditas, menggunakan mekanisasi, korporasi, market place, berorientasi ekspor dan lain sebagainya," tutur Syahrul dalam keterangan tertulis, Rabu (25/8/2021).

Sementera itu, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Ali Jamil menjelaskan ada tiga lokasi food estate sementara ini, yaitu Kalimantan Tengah, Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Timur.

Untuk penetapan lokasi area food estate menurutnya sudah mempertimbangkan aspek-aspek teknis melalui analisa peta/data teknis masing-masing kegiatan antara lain, peta kesesuaian lahan, peta lahan gambut, peta kesesuaian kajian lingkungan hidup cepat, peta tutupan lahan, peta kawasan hutan dan lain-lain.

Pelaksanaan pembangunan food estate juga melibatkan beberapa pihak di antaranya, kementerian atau lembaga, Kemenko Perekonomian yang menyusun peta penentuan lokasi (Area of Interest) dan melakukan koordinasi pelaksanaan kegiatan antara kementerian atau lembaga, seperti Bappenas yang membuat rencana induk (master plan), Kementerian PUPR menangani penyediaan infrastruktur jalan dan irigasi, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup membuat kajian lingkungan hidup strategis dan memastikan lahan yang digunakan mempunyai status yang aman dan di luar kawasan lindung.

"Kementerian Pertanian sendiri fokus pada kegiatan budidaya pertanian dan pendampingan pelaksanaan kegiatan. Sedangkan kementerian atau lembaga lainnya, termasuk perguruan tinggi mendukung program pengembangan food estate sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing," kata Ali.

Senada, Direktur Perluasan dan Perlindungan Lahan Ditjen PSP Kementan, Erwin Noor Wibowo menjelaskan penentuan lokasi pengembangan food estate sudah melalui analisa dan kajian melalui penapisan data dan peta.

Analisa dan kajian tersebut seperti peta kesesuaian Kajian Lingkungan Hidup Strategis, peta kesesuaian lahan pertanian, peta kawasan hutan, peta lahan prima, peta tutupan lahan, peta daerah irigasi, peta penggunaan tanah, peta vegetasi dan peta terkait lainnya.

"Pengembangan food estate dilakukan pada beberapa kawasan yang terbagi atas klaster yang merupakan bagian dari areal keseluruhan," tutur Erwin.

Klaster merupakan konsentrasi geografis dari petani dan pelaku usaha agribisnis, kelembagaan pendukung dan pengusaha terkait yang bekerja dalam satu rantai produksi suatu komoditas pertanian, saling berhubungan dan membangun jejaring nilai dalam menghadapi tantangan maupun mengambil kesempatan bersama.

"Berdasarkan luasnya, konsep pengembangan klaster pada kawasan food estate di kawasan seluas 10.000 hektar terdiri dari beberapa klaster seluas 2.000-5.000 hektar," imbuhnya.

Erwin menjelaskan untuk desain dan teknologi yang diterapkan diarahkan melalui pengkajian dari berbagai aspek secara terpadu menjadi satu kesatuan paket teknologi pengelolaan lahan yang baik atau Best Management Practices (BMP).

Penerapan BMP pada lahan rawa mengarah pada satu tujuan, yaitu lahan produktif, bermanfaat, efisien dan aman bagi lingkungan.

"Adapun BMP yang disusun dalam penyusunan desain antara lain sistem tata kelola air, ameliorasi dan pemupukan, pengolahan tanah, pemilihan varietas, pengendalian gulma, hama dan penyakit," urai Erwin.

Menurut dia, kegiatan Survey Investigasi dan Desain (SID) secara teliti, terukur dan objektif menjadi kunci keberhasilan dalam perancangan kegiatan dan pembuatan desain pelaksanaan.

"Pengembangan sistem tata kelola air dilaksanakan dengan mengadopsi teknologi penanganan irigasi di lahan rawa pada sistem tata kelola air makro (tingkat kawasan/cluster) dan sistem tata kelola air mikro (tingkat blok tersier)," ucap Erwin.



Simak Video "Moeldoko Buka-bukaan soal Food Estate: Libatkan Prabowo-Anak SMK"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)