Berita Afghanistan Hari Ini: IMF Stop Dana hingga Dolar AS Langka

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 25 Agu 2021 12:38 WIB
Pakistani soldiers stand guard while stranded people walk towards the Afghan side at a border crossing point, in Chaman, Pakistan, Friday, Aug. 13, 2021. Pakistan opened its Chaman border crossing for people who had been stranded in recent weeks. Juma Khan, the Pakistan border towns deputy commissioner, said the crossing was reopened following talks with the Taliban. (AP Photo/Jafar Khan)
Foto: AP/Jafar Khan
Jakarta -

Kondisi Afghanistan makin memprihatinkan. Pasalnya setelah Taliban menguasai pada pekan lalu, Dana Moneter Internasional atau IMF menahan hingga memblokir miliaran dolar AS yang dimiliki Afghanistan.

Negara ini masih tergantung dengan dolar AS karena Afghanistan selama dua dekade bergantung pada bantuan internasional, termasuk AS. Jika tak ada bantuan mencapai US$ 4,2 miliar pada 2019 maka pemerintahan Afghanistan hampir tumbang.

Memang, Afghanistan adalah negara termiskin di dunia yang masih bergantung pada uang tunai. Hanya sekitar 10% populasi orang Afghanistan yang punya rekening di bank.

Mata uang Afghanistan ditopang oleh pengiriman dolar AS dari luar negeri ke bank sentral Afghanistan. Mantan Kepala Bank Sentral Afghanistan Ajjmal Ahmady menyebut jika uang yang dikirimkan itu diambil sekitar US$ 9-10 miliar dalam mata uang asing.

Negara ini sedang kekurangan dolar AS. Kekurangan ini terjadi sebelum Taliban berhasil menguasai Kabul. Bank sentral juga telah membatasi penarikan uang tunai di negara itu. Ahmady menyebutkan jika Taliban hanya bisa mengakses 0,1-0,2% dari total cadangan internasional Afghanistan.

Selain kondisi politik dan keamanan negara, kondisi ekonomi Afghanistan juga tidak stabil. Pasar masih tetap dibuka namun banyak pusat perbelanjaan yang tutup. Hingga lembaga keuangan dan money changer tutup.

Kondisi ini diperparah ketika Western Union menghentikan layanan hingga jangka waktu yang tidak ditentukan. Selain Western Union, MoneyGram bahkan memutuskan untuk angkat kaki dari Afghanistan.

Tahun lalu, pengiriman uang ke Afghanistan mencapai US$ 788,9 juta atau Rp 11 triliun, hampir 4% dari produk domestik bruto (PDB) negara itu. Anwar-ul-Haq Ahady, mantan Menteri Keuangan dan Gubernur pusat mengatakan, Afghanistan akan mengalami dampak yang sangat negatif pada ekonomi.

"Alasan utama stabilitas valuta asing adalah karena kami menerima jumlah uang yang konstan dan cukup besar. Sangat penting bagi para pemangku kepentingan di Afghanistan untuk mengenali situasinya," katanya.

(kil/ara)