Kondisi Afghanistan: Bank Dunia Setop Bantuan-Guru Agama Jadi Bos Bank Sentral

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 26 Agu 2021 18:00 WIB
Bandara di Kabul ramai didatangi warga. Mereka ramai-ramai tinggalkan Ibu Kota Afghanistan di tengah gerilya kelompok Taliban yang kian dekat ke Kabul.
Kondisi Afghanistan: Bank Dunia Setop Bantuan-Guru Agama Jadi Bos Bank Sentral
Jakarta -

Afghanistan dalam kondisi ekonomi yang semakin mengkhawatirkan. Kondisi ini semakin buruk sejak Taliban berhasil menguasai negara tersebut.

Kabar terbaru, setelah IMF menyetop bantuan, giliran Bank Dunia yang menghentikan sejumlah pendanaan mereka untuk proyek-proyek di Afghanistan setelah kelompok bersenjata Taliban menguasai negara tersebut.

Melansir dari BBC, Kamis (26/8/2021), sejumlah pendanaan ini dihentikan oleh Bank Dunia mengingat pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban akan mempengaruhi prospek pembangunan negara, terutama bagi perempuan.

Langkah itu dilakukan hanya beberapa hari setelah Dana Moneter Internasional atau IMF menahan hingga menangguhkan pembayaran ke Afghanistan. Pada pekan lalu, IMF mengumumkan bahwa Afghanistan tidak akan lagi dapat mengakses sumber daya pemberi pinjaman global.

Seorang juru bicara IMF mengatakan kalau hal ini karena kurangnya kejelasan dalam masyarakat internasional atas pengakuan pemerintah (Taliban) di Afghanistan.

Perlu diketahui bahwa sejak 2002, lembaga keuangan yang berbasis di Washington itu telah memberikan komitmen lebih dari US$ 5,3 miliar atau setara dengan Rp 76,3 triliun (dengan kurs Rp 14.400/dolar AS) untuk proyek-proyek rekonstruksi dan pembangunan di Afghanistan.

"Kami telah menghentikan pencairan dana dalam operasi kami di Afghanistan dan kami memantau dan menilai situasi dengan cermat sesuai dengan kebijakan dan prosedur internal kami," kata juru bicara Bank Dunia kepada BBC.

Tak hanya itu, Asosiasi Bank Afghanistan mengumumkan pada Senin di Facebook, Taliban telah menunjuk Haji Mohammad Idris sebagai penjabat gubernur bank sentral. Namun Gul Maqsood Sabit, mantan wakil menteri keuangan, mengaku belum pernah mendengar tentang Idris.

"Tidak sama sekali," kata Sabit, yang tinggal di California dan bekerja sebagai dosen di community college.

"Orang ini adalah seseorang yang bertugas di Komisi Ekonomi Taliban. Dia adalah seorang guru di (sekolah agama) di Pakistan, dan dari sanalah dia berasal, jadi hanya itu yang kami ketahui tentang orang ini, dan sekarang dia mengelola bank sentral. Dia mungkin tidak memiliki pengalaman sama sekali," terangnya.

Pemerintah baru yang dipimpin Taliban tidak menunjukkan bukti pengalaman Idris di bidang keuangan atau perbankan. Pengumuman itu muncul dua hari setelah kementerian keuangan Taliban menyatakan bahwa semua pegawai pemerintah akan dibayar seperti sebelumnya.

Pengamat dan pakar keuangan Afghanistan mengatakan itu adalah tanda terbaru bahwa tanpa intervensi lebih lanjut dari komunitas internasional, ekonomi negara itu dapat menderita bahkan lebih parah daripada yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Tak lama setelah pemerintahan Afghanistan jatuh pada 15 Agustus, nilai mata uang afghani merosot, jatuh hampir 8% terhadap dolar AS. Tetapi sejak 17 Agustus, mata uang lokal relatif stabil, mungkin karena praktis dibekukan. Sekarang hampir tidak mungkin untuk memindahkan uang ke dalam atau ke luar negeri. Dengan pegawai pemerintah tidak dibayar dan bank tidak buka, bahkan perdagangan sehari-hari pun sulit.

(das/fdl)