Wanti-wanti Sri Mulyani soal Ngerinya Ancaman Selain Pandemi, Apa Ya?

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 27 Agu 2021 07:30 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Perubahan iklim mendapat perhatian khusus dari semua negara di dunia karena ancamannya yang nyata ke depannya. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengungkapkan hal yang sama, berbagai ancaman untuk pekerja, ekonomi hingga alam akan berpengaruh.

Pertama, soal ancaman perubahan iklim kepada pekerja di dunia. Sri Mulyani mengatakan berdasarkan kajian United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), bahwa 1,5 miliar pekerja akan terpengaruh oleh perubahan iklim.

"Dan perlunya dunia melakukan transisi menuju apa yang disebut ekonomi yang lebih sustainable," kata Sri Mulyani dalam SAFE Forum 2021 secara virtual, Kamis (26/8/2021).

Kedua, mempengaruhi ekonomi negara yang secara anggaran tidak mumpuni. Sri Mulyani akan menghantam ekonomi lebih parah, seperti dampak COVID-19 kepada ekonomi.

"Negara yang tidak mampu akan mengalami konsekuensi yang lebih parah sama seperti COVID-19. Kalau kita lihat negara-negara yang tidak mampu, apakah untuk mendapatkan vaksin tidak memiliki sistem kesehatan yang bagus. Maka dampaknya kepada masyarakat dan ekonominya akan jauh lebih parah demikian juga climate change," jelasnya.

Ketiga, butuh anggaran yang besar. Sri Mulyani mengatakan pembiayaan perubahan iklim diprediksi bisa mencapai US$ 247,3 miliar atau Rp 3.561 triliun (kurs Rp 14.400) agar bisa mengurangi emisi.

"Bahkan APBN sudah memulai sudah mulai menandai di dalam belanja APBN dalam rangka untuk memenuhi climate action. Komitmen ini sejak tahun 2016 budget target kita untuk climate change 2016-2020 5 tahun terakhir kita mengalokasikan 4,1% dari APBN kita dan ini angkanya pasti tidak mencukupi untuk mencapai target US$ 247,3 billion," imbuhnya.

Keempat perubahan iklim menjadi bencana alam yang magnitude-nya diperkirakan sama dengan COVID-19. Beberapa waktu lalu, Sri Mulyani mengungkap perubahan iklim adalah ancaman yang nyata untuk dunia bahkan telah dipelajari oleh berbagai ilmuwan yang menggambarkan bahwa dunia ini mengalami pemanasan global.

Hal ini karena semakin seluruh negara di dunia melakukan pembangunan maka akan semakin sejahtera. Mobilitas masyarakat semakin tinggi, penggunaan energi semakin besar dan tekanan terhadap sumber daya alam menjadi sangat nyata.

Kelima, perubahan iklim menghantui Indonesia saat umurnya mencapai 100 tahun merdeka. Tepatnya pada 2045, atau rentang 2030-2050. Meskipun saat ini dampaknya sudah mulai terasa.

"Ini akan jadi risiko yang nyata karena kebetulan waktu kita bicara tentang Indonesia 2045, kita akan bicara tentang timeline dari climate change," kata Sri Mulyani

"Kalau tahun 2040-2050 dunia tidak mampu menciptakan pembangunan dengan net zero emission, maka dunia akan mengalami suhu temperatur yang naik dan itu dampaknya sudah mulai dirasakan dari sekarang," tambahnya.

Keenam, akan ada banjir besar akibat kenaikan permukaan air laut di Indonesia yang sebagai negara kepulauan. Belum lagi ancaman kebakaran hutan karena kenaikan suhu bumi yang membuat kondisi lebih panas.

"Indonesia sebagai negara kepulauan ancaman ini sangat nyata. Dalam laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) mengenai dampak climate change di south east Asia, Indonesia jadi salah satu negara yang dilihat akan mengalami dampak luar biasa dari mulai pemanasan yang bisa menjadi kebakaran hutan, hingga banjir yang bisa melanda kota-kota di Indonesia termasuk dalam hal ini kenaikan permukaan laut," pungkasnya.

(zlf/zlf)