RI Genjot Produksi Porang hingga Produk Turunannya

Adhar Muttaqin - detikFinance
Jumat, 27 Agu 2021 21:47 WIB
Budi daya porang digenjot
Foto: Adhar Muttaqin/detikcom
Trenggalek -

Pemerintah berjanji akan menjaga stabilitas pertanian porang di Indonesia dengan memaksimal hilirisasi. Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi mengatakan upaya menjaga hilirisasi porang tersebut sejalan dengan imbauan Presiden Jokowi. Sehingga diharapkan stabilitas harga dan produksi porang dari petani lokal tetap terjaga.

"Kita tingkatkan hilirisasi, sehinga masalah seperti tidak bisa diserap, terus harga tidak stabil, bisa hilang," kata Harvick saat panen raya porang di Desa Jombok, Kecamatan Pule, Trenggalek Rabu (25/8/2021).

Menurutnya dengan penyerapan yang terjaga, keberadaan pertanian porang akan terus tumbuh. Mengingat tanaman tersebut merupakan komoditas pangan dan bisa diolah menjadi berbagai produk turunan.

Dikatakan terpuruknya sejumlah produk pertanian yang sempat hit di Indonesia seperti jarak, mengkudu hingga buah merah dan menjadi pengalaman tersendiri bagi pengembangan produksi porang.

"Produk turunan porang ini sangat banyak, nah ini semua bisa tingkatkan lagi, kita inovasikan ke kawan-kawan kepala daerah. Mudah-mudahan bisa membangkitkan (porang)," jelas Harvick.

Sementara itu Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin mengatakan saat ini produksi porang di Trenggalek telah mencapai 280 ribu ton, dengan luas area lahan 4.000 hektare.

"Cukup besar kapasitas di sini dan setiap tahun terus bertambah, karena memang pasar masih terbuka lebar," kata Arifin.

Menurutnya untuk menjaga hilirisasi porang pihaknya mengklaim siap bekerjasama dengan investor maupun pabrik pengolahan porang. Bahkan pihaknya siap untuk menyediakan lahan dengan skema bagi hasil.

"Jadi investor nggak perlu pusing mikir beli lahan, artinya ke sini tinggal setup pabriknya dan bisa jalan. Tetapi nanti mungkin mekanismenya kami minta 50:30:20. Artinya 50 investor, 30 pemerintah karena yang punya lahan dan 20 kami kembalikan ke kelompok tani," ujarnya.

Dengan skema itu diharapkan di saat ada keuntungan besar dari pabrik, para petani juga bisa merasakan keuntungan. Hal itu akan membuat petani loyal sebagai mitra perusahaan.

"Jadi nggak hanya tawar menawar karena harga, sehingga kerjasamanya nanti terputus, ketika pabrik bangkrut, petani diinjak dari sisi harga. Kami tidak ingin seperti itu," imbuh Arifin.

Saat ini harga porang di tingkat petani Rp 7.200 sampai dengan Rp 7.300. Kondisi itu mulai mengalami penurunan jika dibandingkan beberapa tahun lalu yang bisa menembus Rp 10 ribu/kg.

(hns/hns)