Penjelasan Kenapa Banyak Mal Gugur dan Terancam Dijual

Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 30 Agu 2021 10:53 WIB
Mal di Tangerang kembali bergeliat usai kawasan itu kini berstasus PPKM Level 3. Mal pun kembali jadi tujuan warga untuk isi waktu libur di akhir pekan.
Ilustrasi mal/Foto: Andhika Prasetia/Detikcom
Jakarta -

Terimbas pandemi Covid-19 dan PPKM, sejumlah mal di Bandung dikabarkan terancam untuk dijual. Mal-mal tersebut terancam dijual karena sepinya kunjungan meski pemerintah sudah mulai melonggarkan pembatasan.

Menanggapi hal tersebut, Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) buka suara mengenai kabar mal-mal yang terancam dijual karena dampak pandemi COVID-19. Menurut asosiasi, fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Bandung atau daerah tertentu saja, namun terjadi hampir di semua daerah.
"Ada beberapa pusat perbelanjaan yang berpotensi tutup ataupun dijual dan bukan hanya di daerah tertentu saja, banyak terjadi di hampir semua daerah," kata Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja kepada detikcom, Minggu (29/8/2021).

Meski begitu, pihaknya tak bisa merinci mal-mal yang akan dijual tersebut. Sebab, hal itu akan mengganggu penyelamatan yang tengah diupayakan masing-masing perbelanjaan.

"APPBI tidak bisa menyebutkannya secara terperinci dikarenakan dapat mengganggu upaya proses penyelamatan yang sedang diupayakan oleh masing-masing pusat perbelanjaan dimaksud," katanya.

Dia menjelaskan kalau daya tahan setiap pusat perbelanjaan berbeda satu dengan yang lain. Sementara itu, pelonggaran yang diberikan oleh pemerintah masih lah sangat terbatas.

Oleh karena itu, tidak heran bila situasi ini akan sangat menyulitkan bagi pusat perbelanjaan yang sudah tidak punya dana cadangan.

"Pelonggaran yang diberikan oleh pemerintah saat ini relatif masih sangat terbatas sekali sehingga masih akan tetap menyulitkan bagi pusat perbelanjaan yang sudah tidak memiliki dana cadangan lagi," ujarnya.

Sebagai informasi, sebanyak 5 mal di Bandung terancam dijual karena terdampak pandemi COVID-19. Mal-mal tersebut terancam dijual karena sepinya kunjungan meski pemerintah mulai melonggarkan pembatasan.

"Ya kurang lebih begitu. Kalau kepastian belum tahu karena data yang masuk kami bicaranya begitu," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Bandung Raya Handianto Lie.

(zlf/zlf)