Tahukah Kamu?

Sudah Tahu Belum? Dunia Sekarang Lagi Krisis Chip!

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 30 Agu 2021 11:33 WIB
samsung chip RAM
Foto: Istimewa
Jakarta -

Industri teknologi lagi kekurangan chip. Chip lagi krisis. Soalnya jutaan produk kayak mobil, mesin cuci, handphone (HP), dan masih banyak lagi butuh semikonduktor itu sebagai 'otak'nya.

Nah sebagai pengguna teknologi di atas, tahukah kamu kenapa chip bisa langka? Supaya jangan tau barang jadinya aja, simak nih penjelasannya yang dikutip detikcom dari BBC, Senin (30/8/2021).

1. Gara-gara Pandemi COVID-19

Selama pandemi COVID-19, permintaan yang naik-turun bikin industri mengurangi permintaan chip. Beberapa perusahaan teknologi juga ada yang melakukan penimbunan.

Di waktu bersamaan ternyata barang teknologi kayak laptop, tablet malah permintaannya melonjak karena banyak yang kerja dan sekolah di rumah. Di sisi lain banyak pabrik chip tutup karena lockdown.

Meski begitu, Analis di Gartner, Koray Köse bilang pandemi bukan satu-satunya penyebab kelangkaan chip. "Itu mungkin hanya tetes terakhir air dalam ember," katanya.

2. Muncul 5G

Kehadiran teknologi 5G bikin permintaan chip naik dan jadi tambahan beban krisis. Hal itu terbukti dari pembuat chip di luar Amerika Serikat (AS) yang dibanjiri pesanan dari perusahaan China.

Kompleksitas manufaktur lainnya juga menghambat pasokan komponen tertentu. Ada dua pendekatan utama untuk produksi chip saat ini: menggunakan wafer 200mm atau 300mm. Angka-angka itu mengacu ke diameter wafer silikon berbentuk lingkaran yang dipotong-potong jadi banyak chip kecil.

Wafer yang lebih besar harganya lebih mahal dan sering digunakan untuk perangkat yang lebih canggih. Situs berita industri Semiconductor Engineering menyoroti risiko kekurangan chip sebagian karena kurangnya peralatan manufaktur 200mm, pada Februari 2020.

3. Ongkos Logistik Naik

Masalah logistik juga memperparah krisis chip. Kepala eksekutif OCI, Oliver Chapman mengatakan biaya pengiriman kontainer di seluruh dunia bengkak karena lonjakan permintaan yang tiba-tiba selama pandemi COVID-19, belum lagi ada kenaikan biaya angkutan udara dan kurangnya sopir truk di Eropa.

Ongkos pengiriman satu kontainer 40ft dari Asia ke Eropa sekarang US$ 17.000 atau setara Rp 244 juta (kurs Rp 14.365). Jumlah itu naik lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan tahun lalu yang biayanya sekitar US$ 1.500 atau Rp 21 juta.

lanjut ke halaman berikutnya

Tonton juga Video: iMac Terbaru Apple, Dibekali Chip M1 dengan Warna Menggemaskan

[Gambas:Video 20detik]