Luhut Beri Sinyal Pelonggaran, Bagaimana Kondisi Ekonomi Selama PPKM?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 30 Agu 2021 18:35 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memberikan sinyal terkait pembukaan PPKM secara berkala.

PPKM yang dilakukan berlevel-level sebelumnya memberikan dampak untuk perekonomian masyarakat. Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono mengungkapkan PPKM Darurat ini memang menekan belanja masyarakat.

Hal ini karena adanya pembatasan mobilitas yang akhirnya menekan belanja. Dari data Mandiri Spending Index (MSI) menunjukkan bahwa indeks nilai belanja masyarakat pada 1 Agustus turun tajam ke level 73,3.

Teguh mengungkapkan namun seiring dengan relaksasi PPKM, belanja masyarakat menunjukkan pembalikan arah. Data pada tanggal 15 Agustus, indeks belanja masyarakat menunjukkan tanda pemulihan. Pada pertengahan Agustus indeks frekuensi belanja mayarakan mulai naik ke level 97,3. Demikian pula halnya dengan indeks nilai belanja yang naik ke level 79,7.

"Dalam beberapa minggu ke depan, seiring dengan relaksasi PPKM, kami melihat bahwa tren pemulihan belanja akan terus berlanjut," kata dia dalam rieset Mandiri Institute, dikutip Senin (30/8/2021).

Dia mengungkapkan belanja masyarakat di Pulau Jawa juga terus mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan pemulihan yang cepat seiring dengan diturunkannya tingkat PPKM di banyak provinsi di Pulau Jawa. Indeks nilai belanja di Jawa pada 15 Agustus berada di 73,4 naik dari 63,8 pada tanggal 1 Agustus 2021.

Faktor lain yang mendorong kenaikan belanja di Jawa tampaknya juga menurunnya kasus positif COVID-19. Hal ini membuat masyarakat relatif lebih berani untuk melakukan aktivitas ekonomi. Sementara itu, indeks belanja di luar Pulau Jawa meski masih relatif tinggi menunjukkan tren yang menurun. Hingga 15 Agustus 2021, indeks belanja di luar Pulau Jawa berada di tingkat 86,4.

Teguh menyebut pemulihan belanja terjadi di setiap lapisan kelompok masyarakat. Dari tiga kelompok masyarakat yang dibagi berdasarkan penghasilan bawah, menengah, atas seluruhnya menunjukkan kenaikan dalam belanja masyarakat. Namun demikian belanja kelompok masyarakat menengah mengalami kenaikan drastis. Hingga tanggal 15 Agustus 2021, indeks belanja kelompok menengah yaitu mereka yang memiliki penghasilan sekitar Rp 8,4 juta per bulan menunjukkan angka 110,5%.

"Artinya belanja kelompok ini sudah berada di tingkat sebelum pandemik Januari 2020. Sementara itu kelompok bawah juga mengalami kenaikan. Selain pelonggaran mobilitas, dukungan pemerintah terhadap kelompok ini dalam bentuk perlindungan sosial juga berdampak positif bagi kelompok bawah," jelasnya.

Belanja di restoran dan department stores perlahan mulai meningkat, meski masih di bawah 100 level normal sebelum pandemik. Pada kelompok belanja restoran dan Department Stores mulai naik perlahan seiring pelonggaran mobilitas.

Pada 15 Agustus 2021, indeks belanja terkait restoran berada di tingkat 94,8 angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan situasi di 1 Agustus 2021. Sementara itu belanja di ritel ritel yang terkait kebutuhan rumah tangga dan supermarket tampaknya tidak terdampak cukup dalam semasa PPKM Darurat.

Angka kunjungan ke tempat belanja juga mengalami kenaikan. Melalui data Google Maps di akhir bulan Agustus 2021 tanggal 22-28 Agustus 2021, angka kunjungan ke tempat perbelanjaan pada 9 kota besar sudah kembali ke situasi awal Juli, yaitu 63% pada jam sibuk.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan situasi pada 1-11 Agustus di mana angka kunjungan ke tempat belanja berada di tingkat 60% dari normal di jam sibuk.

Kenaikan angka kunjungan di tempat belanja di dominasi oleh kenaikan kunjungan di shopping mall, terutama shopping-mall di daerah Jabotabek. Data dikumpulkan dari 6748 tempat belanja yang tersebar di 9 kota besar, yaitu Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Medan, Makassar, Surabaya, Bandung dan Denpasar.

Pada periode 22-28 Agustus 2021, angka kunjungan ke restoran di 8 kota besar juga mengalami kenaikan drastis. Kunjungan ke restoran pada periode ini melonjak ke tingkat 62% dari sebelumnya anjlok dan berada di tingkat 39% pada 1-11 Agustus 2021. Data ini berasal dari 7828 restoran yang tersebar di 8 kota besar, yaitu Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Medan, Makassar, Surabaya, dan Denpasar.

Seluruh data menunjukkan sinyal pemulihan di tengah penurunan kasus COVID-19. Hal ini menunjukkan bahwa keseimbangan antara kesehatan dan ekonomi dapat dicapai.

"Tantangan terbesar adalah mempertahankan keseimbangan ini ke depan. Monitoring mobilitas, kasus dan kondisi ekonomi secara reguler dan mutakhir amat diperlukan. Selain itu, vaksinasi dan distribusi vaksin yang lebih baik, terutama untuk daerah luar Jawa diperkirakan akan mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat," jelasnya.

(kil/dna)