Ekonomi China Kembali di Ujung Tanduk, Ini Biang Keroknya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 01 Sep 2021 10:47 WIB
Passengers arriving from the Chinese city of Wuhan arrive at Narita Airport in Chiba, Japan in this photo taken by Kyodo January 23, 2020. Mandatory credit Kyodo/via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT. JAPAN OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN JAPAN
Foto: (Reuters)
Jakarta -

Perekonomian China mengalami sedikit penurunan karena lonjakan kasus virus COVID-19. China saat ini sedang fokus mencoba menghentikan lonjakan kasus yang menimbulkan krisis logistik.

Dilansir dari CNN, Rabu (9/1/2021), sebuah survei resmi menunjukkan aktivitas manufaktur China turun ke level 50,1 poin pada Agustus, padahal di bulan Juli berada di level 50,4 poin.

Meski masih berada di atas 50 poin yang menunjukkan tanda ekspansi daripada kontraksi, tetapi pertumbuhannya masih menjadi yang paling lambat sejak awal pandemi.

Industri jasa saat ini menyumbang bagian yang lebih besar di China juga bernasib lebih buruk. Indeks Manajer Pembelian non-manufaktur jatuh ke level 47,5 poin dari awalnya 53,3 pada Juli.

China memang pada awalnya mengatasi pandemi jauh lebih baik daripada banyak negara di dunia, mereka sempat mencatat pertumbuhan ekonomi yang positif tahun lalu ketika yang lain justru terkontraksi bahkan sampai resesi.

Tetapi dampak dari penyebaran varian delta telah menimbulkan malapetaka dalam beberapa pekan terakhir. Wabah virus Corona yang melonjak kembali di negeri bambu dalam setahun mendorong pemerintah untuk mengambil tindakan dramatis untuk menghentikan infeksi baru. Salah satunya adalah melakukan lockdown.

Otoritas setempat juga langsung melakukan penguncian kota, membatalkan penerbangan, dan menangguhkan perdagangan. Namun, strategi agresif dan tanpa kompromi ini tampaknya telah menahan penyebaran virus delta, meskipun harus mengorbankan kegiatan ekonomi.

"Survei terbaru menunjukkan bahwa ekonomi China mengalami kontraksi bulan lalu karena gangguan virus sangat membebani aktivitas layanan," Julian Evans-Pritchard, ekonom senior China di Capital Economics.

Julian menambahkan bahwa penurunan PMI non-manufaktur sepenuhnya didorong oleh gangguan di sektor jasa karena pembatasan pergerakan diberlakukan kembali dan konsumen menjadi lebih berhati-hati di tengah wabah virus yang baru.

Masalah tidak sampai di situ, masalah yang berlangsung dengan rantai pasokan global telah memperburuk kondisi China. Perdagangan global telah berada dalam kekacauan selama berbulan-bulan. Di tengah melonjaknya produksi manufaktur dan ledakan permintaan, justru sektor rantai pasok malah terganggu dengan kelangkaan kontainer.

Belum lagi beberapa penutupan pelabuhan juga dilakukan di China. Sebuah terminal di Pelabuhan Ningbo-Zhoushan di selatan Shanghai ditutup selama berminggu-minggu setelah seorang pekerja dermaga dinyatakan positif COVID-19. Padahal di area ini justru menjadi pusat pelabuhan peti kemas yang tersibuk di dunia.



Simak Video "Ekonomi China Tahun 2020 Tumbuh 2,3% Meski Sempat Lockdown"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/ang)