5 Fakta Merger BUMN Pelabuhan yang Ditarget 1 Oktober

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 02 Sep 2021 07:00 WIB
Neraca perdagangan pada Oktober 2017 tercatat surplus US$ 900 juta, dengan raihan ekspor US$ 15,09 miliar dan impor US$ 14,19 miliar.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Sebanyak empat BUMN pelabuhan yakni PT Pelindo I hingga IV akan digabung dalam waktu dekat. Rencana merger BUMN sebenarnya bukanlah hal baru, namun baru akan terealisasi. Berikut fakta-faktanya:

1. Merger 1 Oktober

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, merger ini merupakan rencana lama yang akhirnya bisa terealisasi dalam waktu dekat ini. Dia mengatakan, merger akan dilakukan pada 1 Oktober 2021.

"Merger daripada Pelindo I sampai Pelindo IV merupakan satu rencana yang sebenarnya sudah sangat lama diharapkan terjadi. Ini sudah beberapa periode diupayakan, alhamdulilllah di periode ini kita telah berhasil menyatukan hati dan menyatukan visi untuk Pelindo bersatu," kata pria yang disapa Tiko dalam konferensi pers, Rabu (1/9/2021).

"Di mana hari ini kita telah mengumumkan rancangan merger yang akan dilaksanakan 1 Oktober 2021, dan nantinya kita sedang menunggu PP yang akan menjadi dasar hukum untuk penggabungan dari 4 pelabuhan milik BUMN ini," sambungnya.

2. Empat Subholding Dibentuk

Tiko mengatakan, empat subholding akan dibentuk sejalan dengan adanya merger. Sebutnya, pertama, subholding peti kemas. Kedua non peti kemas yang melayani jasa lain seperti curah cair. Ketiga, subholding logistik. Keempat, subholding marine, equipment and port services.

"Dengan adanya perubahan ini kita harapkan akan signifikan untuk meningkatkan scale up dari kapasitas maupun memberikan efisiensi," katanya.

Dia menuturkan, empat subholding ini akan berkantor di kota-kota yang menjadi kantor pusat Pelindo I-V. "Kantor pusatnya akan di Medan, Jakarta, Surabaya, dan Makassar," ujarnya.

3. Aset Rp 112 T

Penggabungan tersebut akan membuat aset BUMN semakin besar. Tiko mengatakan, BUMN hasil merger punya aset Rp 112 triliun.

"Jadi total aset dari penggabungan empat Pelindo ini mencapai Rp 112 triliun, dengan pendapatan Rp 28,6 triliun. Jadi skalanya sudah masuk perusahaan-perusahaan pelabuhan global," katanya.

4. Pakai Nama Pelabuhan Indonesia

Direktur Utama Pelindo I Prasetyo mengatakan, nama perusahaan hasil merger adalah PT Pelabuhan Indonesia (Persero). Nantinya, perusahaan ini memiliki empat subholding.

Subholding non peti kemas berkantor di Medan dengan nama Pelindo Multi Terminal. Sub holding peti kemas berkantor di Surabaya dengan nama Terminal Peti Kemas Indonesia.

Selanjutnya, sub holding logistik dengan head office di Jakarta dengan nama Pelindo Solusi Logistik. Kemudian, subholding marine, equipment and port services berkantor di Makassar.

"Untuk nama Pelindo terintegrasi nantinya ini, nama yang disepakati adalah Pelabuhan Indonesia (Persero). Kalau kemarin kita terpisah-pisah Pelindo I, II, III dan IV saat ini cukup Pelindo saja," katanya.

5. Biaya Logistik Turun 1,6%

Direktur Utama Pelindo II Arif Suhartono mengatakan, salah satu aspek terpenting adanya merger ini adalah layanan kepebelabuhan yang terstandar.

"Jadi hal yang terpenting layanan kepelabuhanan untuk semua daerah diharapkan terstandar, pengoperasian standar, sistem standar ini yang akan berdampak kepada membaiknya terkait dengan logistik nasional. Ini adalah terkait dengan layanan," katanya.

Dia menuturkan, terkait dengan adanya merger ini maka biaya logistik akan turun 1,6% di tahun 2025.

"Kedua yang kaitannya, selalu ditanyakan bagaimana target terkait dengan logistic cost diharapkan dalam waktu sampai dengan tahun 2025, diharapkan 1,6% logistic cost turun," katanya.

"Di mana kontribusi direct ke pelabuhan adalah 0,3% sedang indirect adalah sekitar 1,3%. Jadi totalnya sekitar 1,6%," tambahnya.

(acd/ara)