Narkoba di Balik 'APBN' Afganistan Rp 78 T

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 02 Sep 2021 12:04 WIB
Bulan Ramadan akan segera berakhir dan seluruh umat Muslim di dunia bersuka cita sambut hari kemenangan. Yuk lihat persiapan lebaran di negara-negara ini.
Foto: Dok
Jakarta -

Ketidakberdayaan Afghanistan melawan Taliban, membuat negara yang disebut negara termiskin itu diprediksi ekonominya akan hancur. Apalagi, World Bank mengungkap Afghanistan adalah sebuah negara yang tak lepas dari bantuan asing.

Meski demikian, Afghanistan masih memiliki rancangan anggaran tahunannya atau semacam APBN, yang nilainya sebesar US$ 5,5 miliar atau setara Rp 78 triliun (kurs Rp 14.250).

Dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (2/9/2021) Kementerian Keuangan Afghanistan telah menyusun APBN senilai US$ 5,5 miliar itu, sekitar US$3,5 miliar digunakan untuk pengeluaran dan US$ 2 miliar untuk proyek-proyek pembangunan.

Sebagai perbandingan nilai itu lebih kecil dibandingkan dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2021 sebesar Rp 84 triliun, di mana nilai itu sebelum dipangkas akibat pandemi.

Sejumlah besar anggaran pembangunan akan dibelanjakan untuk infrastruktur di sektor pertanian diikuti oleh pendidikan, kesehatan dan jasa. Sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi Afghanistan memberikan kontribusi besar. Termasuk budidaya opium.

Mengutip dari BBC, menurut Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), Afghanistan adalah produsen opium terbesar di dunia. Panen opium di Afghanistan menyumbang lebih dari 80% pasokan dunia. Pada tahun 2018 UNODC memperkirakan produksi opium berkontribusi hingga 11% dari perekonomian negara.

Tanaman opium dapat disuling menjadi bahan dasar untuk beberapa obat yang sangat adiktif, termasuk heroin.

Departemen Luar Negeri AS mengungkap pada tahun 2000an budidaya opium meningkat secara substansial di bawah pemerintahan Taliban dari sekitar 41.000 hektar pada tahun 1998, menjadi lebih dari 64.000 pada tahun 2000. Saat itu memang Taliban pertama kali menguasai Afghanistan.

Pendapatan untuk ekonomi Afghanistan kala dipegang oleh Taliban paling besar dari obat terlarang berkisar dari US$100 juta- US$400 juta.

Perdagangan narkoba menyumbang hingga 60% dari pendapatan tahunan Taliban, kata komandan AS Jenderal John Nicholson dalam laporan Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (Sigar).

Tetapi beberapa ahli membantah angka ini. Seorang peneliti perdagangan obat-obatan terlarang David Mansfield, , mengatakan sistem perpajakan seperti yang dijelaskan oleh PBB dan lainnya, pajak yang diperoleh dari penjualan obat terlarang menghasilkan maksimal US$ 40 juta per tahun.

Lihat juga video 'Taliban Terus Bujuk China Untuk Investasi di Afghanistan':

[Gambas:Video 20detik]



(dna/dna)