3 Fakta Pedagang Pasar Tanah Abang Ramai-ramai Tinggalkan Kios

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 02 Sep 2021 18:00 WIB
Portir memanggul barang di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (26/7/2021). Pemerintah akan memberikan insentif berupa pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas jasa sewa kios, gerai dan toko di pusat perbelanjaan selama Juni-Agustus 2021 untuk membantu dunia usaha yang terdampak penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
3 Fakta Pedagang Pasar Tanah Abang Ramai-ramai Tinggalkan Kios/Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Jakarta -

Pandemi COVID-19 memukul dunia usaha, termasuk aktivitas di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Banyak pedagang yang meninggalkan kios-kiosnya di kala pandemi. Berikut fakta-faktanya:

1. Tinggalkan Kios saat Pandemi

Tokoh Pedagang Pasar Tanah Abang Yasril Umar menjelaskan, para pedagang sebenarnya mulai meninggalkan toko-tokonya sebelum pandemi COVID-19. Mereka tak sanggup meneruskan sewa toko-toko tersebut. Saat pandemi, jumlah pedagang yang meninggalkan toko bertambah banyak.

"Apalagi pandemi dari sejak awal 2020 hingga sekarang, tambah banyak yang mundur, mereka tidak lagi sanggup melanjutkan usaha di sini. Ada yang beralih ke usaha lain, ada yang pulang kampung, ada yang belum ketahuan sekarang mau usaha apa," katanya kepada detikcom, Kamis (2/9/2021).

2. Ada yang 50% Kosong

Pedagang yang meninggalkan toko-tokonya tersebar di berbagai gedung seperti A, B, dan F. Di lantai tertentu, bahkan ada yang tokonya kosong lebih dari 50%.

"Jadi ada beberapa lantai, bahkan lebih 50% kosong. Ada beberapa lantai tertentu," katanya.

3. Biaya Sewa Turun Tajam

Biaya sewa toko saat ini sudah turun sampai 50% dibanding harga normal. Bahkan, ada juga yang penurunannya lebih dalam.

"Iya, sudah turun bahkan lebih dikit di bawah 50% dari harga normal, diturunin. Bahkan ada yang jauh di bawah 50%. Bahkan ada juga, pemilik kios bersedia meminjampakaikan asal bayar service charge," katanya.

Dia mengatakan, biaya sewa toko berbeda-beda. Untuk lokasi yang strategis bisa mencapai Rp 250 juta per tahun dalam kondisi normal.

"Tergantung lantai juga. Ada lantai-lantai yang strategis itu bisa Rp 200 juta sampai Rp 250 juta per tahun untuk ukuran 2x2 itu di keadaan normal. Kalau sekarang di bawah separuhnya juga dilepas sama orang," katanya.

(acd/ara)